IDXChannel - Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky mengklaim posisi utang pemerintah jauh lebih besar daripada angka resmi yang selama ini dipublikasikan secara berkala kepada masyarakat.
Menurut Awalil, perbedaan mendasar mengenai definisi dan cakupan komponen utang yang digunakan pemerintah, sehingga memicu selisih angka hingga ribuan triliun rupiah.
Awalil menyebutkan bahwa informasi posisi utang yang biasa diumumkan pemerintah saat ini mengalami perubahan pola publikasi. Data terkini per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp9.920,45 triliun.
"Sejak 2025 hanya disampaikan tiap tiga bulan, setelah tersedia data Produk Domestik Bruto (PDB) dari Badan Pusat Statistik (BPS)," kata Awalil dalam risetnya, dikutip Minggu (19/7/2026).
Menurut Awalil, data bulanan atau triwulanan yang biasa dikemukakan ke publik tersebut hanya mendefinisikan utang pemerintah dalam ruang lingkup sempit, yaitu sebatas Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan valuta asing (termasuk SBN Syariah), serta pinjaman dalam negeri maupun luar negeri.