AALI
10125
ABBA
232
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1470
ACST
272
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
1165
ADMF
0
ADMG
167
ADRO
1195
AGAR
410
AGII
1100
AGRO
900
AGRO-R
0
AGRS
595
AHAP
71
AIMS
480
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3220
AKSI
0
ALDO
890
ALKA
238
ALMI
240
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/05/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
28013.81
0%
0.00
N225
28608.59
0%
0.00
NYSE
16355.62
0%
0.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,195
Emas
838,803 / gram

Vaksin Nusantara Terus Tuai Polemik, Ini Komentar Menko PMK Muhadjir

ECONOMICS
Fahreza Rizky/Okezone
Minggu, 18 April 2021 16:12 WIB
Menko PMK, Muhadjir Effendy mengatakan, hingga saat ini pemerintah masih mengupayakan solusi atas polemik vaksin nusantara tersebut.
Vaksin Nusantara Terus Tuai Polemik, Ini Komentar Menko PMK Muhadjir. (Foto : MNC Media)

IDXChannel Vaksin Nusantara yang digagas Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto terus menuai polemik, salah satunya adalah belum mendapatkan persetujuan dari BPOM, uji klinis fase kedua vaksin tersebut tetap dilanjutkan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy mengatakan, hingga saat ini pemerintah masih mengupayakan solusi atas polemik vaksin Nusantara tersebut. "Masih sedang diupayakan solusinya," katanya saat dikonfirmasi MNC Portal, Minggu (18/4/2021).

Meski belum mendapatkan rekomendasi dari BPOM, nyatanya sejumlah legislator sudah menjadi relawan vaksin Nusantara dengan diambil sampel darahnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mereka antara lain Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay, Wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Laka Lena, lalu Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, beserta nama-nama lainnya.

Selain anggota DPR, sejumlah tokoh juga ikut menjadi relawan vaksin Nusantara ini, mereka antara lain Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Mantan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, serta Mantan Menkes Siti Fadilah Supari.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengatakan, vaksin Nusantara belum bisa lanjut ke tahap uji klinis selanjutnya karena beberapa syarat belum terpenuhi di antaranya cara uji klinik yang baik (Good Clinical Practical), Proof of Concept, Good Laboratory Practice dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (Good Manufacturing Practice).

Penny menuturkan pihaknya mendukung berbagai pengembangan vaksin asalkan memenuhi kaidah ilmiah untuk menjamin vaksin aman, berkhasiat, dan bermutu.

BPOM mengatakan, sudah melakukan pendampingan yang sangat intensif dimulai dari sebelum uji klinik, mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK), dan ada komitmen-komitmen yang harus dipenuhi. BPOM juga sudah melakukan inspeksi terkait Vaksin Nusantara.

Menurut Penny, jika ada pelaksanaan uji klinik yang tidak memenuhi standar-standar atau tahapan-tahapan ilmiah yang dipersyaratkan, maka akan mengalami masalah dan tidak bisa lanjut ke proses berikutnya.

"Tahapan-tahapan tersebut tidak bisa diabaikan, dan pengabaian itu sangat banyak sekali aspeknya di dalam pelaksanaan uji klinik dari fase 1 dari vaksin dendritik," ucap Penny beberapa waktu lalu. (FHM)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD