"Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil," katanya.
Menurut Yuliot, kondisi tersebut menunjukkan keterkaitan antara ketersediaan energi dengan aktivitas ekonomi dan industri. Harga energi yang lebih murah dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan manufaktur, termasuk usaha berskala kecil.
Yuliot juga menyoroti China dalam kaitannya dengan harga listrik dan daya saing industri. Industri high-tech di China memperoleh harga listrik khusus yang berada di sekitar USD0,04 per kWh. Kondisi inilah yang membuat manufaktur di China tumbuh lebih pesat.
Harga listrik tersebut dibandingkan dengan harga listrik di Indonesia jauh lebih murah. Harga listrik di Indonesia sendiri saat ini berada di kisaran USD0,08 per kWh.
"Sehingga daya saing industri China untuk produksi-produksi yang sifatnya masif itu justru lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain," ujar Yuliot.
(NIA DEVIYANA)