4. Kurang Aktivitas Fisik (Sedentary Lifestyle)
Tak hanya faktor asupan nutrisi, kurangnya aktivitas fisik (sedentary lifestyle) juga memperburuk kondisi jantung di usia produktif. Minimnya latihan fisik secara konsisten memicu penumpukan lemak tubuh hingga obesitas.
“Gen Z yang mager dan tidak memiliki waktu khusus untuk olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio rentan terhadap sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," jelasnya.
Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kebiasaan-kebiasaan di atas dapat memicu gangguan jantung kronis hingga berakhir pada gagal jantung—kondisi yang merupakan stadium akhir dari penyakit jantung.
Gagal jantung dapat diawali oleh penyakit arteri koroner akibat penyumbatan pembuluh darah, hipertensi, penyakit ginjal, hingga diabetes melitus.
Penyakit jantung saat ini menjadi perhatian serius pemerintah. Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, mengungkapkan bahwa penyakit jantung berada di urutan kedua penyebab kematian tertinggi di Indonesia.