AALI
12325
ABBA
196
ABDA
0
ABMM
3060
ACES
995
ACST
161
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
655
ADMF
8075
ADMG
180
ADRO
3150
AGAR
330
AGII
2010
AGRO
935
AGRO-R
0
AGRS
126
AHAP
62
AIMS
232
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
925
AKRA
1005
AKSI
224
ALDO
900
ALKA
302
ALMI
280
ALTO
208
Market Watch
Last updated : 2022/05/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.20
-1.33%
-7.19
IHSG
6840.78
-1.12%
-77.37
LQ45
1002.57
-1.24%
-12.61
HSI
20470.06
-1.19%
-247.18
N225
27001.52
0.98%
+262.49
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,169 / gram

Bikin Miris, 28 Ribu Ton Sampah Masker Medis Cemari Lautan

ECOTAINMENT
Yudi Setyowibowo
Jum'at, 12 November 2021 11:05 WIB
Bikin miris, mungkin itu ungkapan yang pas digambarkan saat melihat lebih dari 28.000 ton sampah plastik masker dan sarung tangan di lautan
Bikin Miris, 28 Ribu Ton Sampah Masker Medis Cemari Lautan (FOTO:MNC Media)
Bikin Miris, 28 Ribu Ton Sampah Masker Medis Cemari Lautan (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Bikin miris, mungkin itu ungkapan yang pas digambarkan saat melihat lebih dari 28.000 ton sampah plastik terkait pandemi, seperti masker dan sarung tangan berakhir di lautan. 

Dalam beberapa tahun, sebagian dari sarung tangan plastik dan bahan kemasan dari pembelian pandemi itu berputar-putar di Kutub Utara. 

Analisis terbaru menyebutkan bahwa 193 negara menghasilkan sekitar 9,2 juta ton (8,4 juta metrik ton) sampah plastik terkait pandemi dari awal pandemi hingga pertengahan Agustus 2021, menurut The Guardian. 

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 8 November di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, sebagian besar plastik tersebut 87,4% berasal dari rumah sakit, sementara 7,6% berasal dari individu. Pengemasan dan alat uji masing-masing menyumbang sekitar 4,7% dan 0,3% dari limbah. 

Tim mengembangkan model untuk memprediksi berapa banyak sampah plastik ini berakhir di laut setelah dibuang. Mereka memperkirakan bahwa, pada 23 Agustus, sekitar 28.550 ton sampah plastik berakhir di lautan setelah terbawa 369 sungai besar, menurut The Guardian. 

Dalam waktu tiga tahun, sebagian besar sampah imbas pandemi itu akan bergeser dari permukaan laut ke pantai dan dasar laut. Kemudian lebih dari 70% terbawa ke pantai pada akhir tahun, tulis para penulis. 

Sementara dalam jangka pendek, sampah tersebut akan berdampak pada lingkungan pesisir di dekat sumber aslinya. Dalam jangka panjang, tumpukan sampah dapat terbentuk di laut terbuka. 

Para peneliti juga memprediksi bahwa apa yang disebut zona akumulasi plastik sirkumpolar akan terbentuk pada tahun 2025. 

"Pandemi COVID-19 baru-baru ini telah menyebabkan peningkatan permintaan plastik sekali pakai , meningkatkan tekanan pada masalah yang sudah di luar kendali ini," tulis penulis penelitian. 

Secara khusus, studi ini menyoroti kebutuhan akan sistem yang lebih baik untuk mengumpulkan, mengolah, dan membuang sampah plastik medis di negara berkembang, untuk menjauhkannya dari sungai. Selain itu, perlu juga membatasi penggunaan plastik sekali pakai dan mencari alternatif lain.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD