AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17083.15
-0.09%
-16.06
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Dua Merek Ponsel China Dianggap Berbahaya oleh Pakar Siber Lithuania, Kenapa? 

ECOTAINMENT
Intan Rakhmayanti Dewi
Sabtu, 25 September 2021 19:57 WIB
Pakar keamanan siber Lithuania mewaspadai dua merek ponsel buatan China.
Dua Merek Ponsel China Dianggap Berbahaya oleh Pakar Siber Lithuania, Kenapa? (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Pakar keamanan siber Lithuania mendesak lembaga pemerintah negara itu untuk meninggalkan penggunaan 2 merek smartphone buatan China. Hal ini diungkap setelah adanya penyelidikan mengidentifikasi kerentanan kemanan dan masalah sensor dengan perangkat tertentu.

Mengutip dari APnews, Kamis (23/9/2021), pusat Keamanan Siber Nasional Lituania mengatakan telah menemukan empat risiko keamanan siber utama di perangkat yang dibuat oleh Huawei dan Xiaomi.

Termasuk, dua yang berkaitan dengan aplikasi pra-instal dan satu yang melibatkan kebocoran data pribadi. Untuk itu mereka memperingatkan agar tidak menggunakan kedua merek ini.

Ada juga risiko kemungkinan pembatasan kebebasan berekspresi dengan ponsel Xiaomi, yang berisi fitur penyaringan konten untuk 449 kata kunci atau grup kata kunci dalam karakter China.

Mereka memperingatkan bahwa fungsi tersebut dapat diaktifkan kapan saja dan tidak menutup kemungkinan bahwa kata-kata yang menggunakan karakter Latin dapat ditambahkan. Menurut laporan Lithuania, aplikasi menerima daftar kata dan frasa yang disensor dan mampu memblokirnya.

Pusat keamanan siber yang merupakan lembaga Kementerian Pertahanan juga menyelidiki ponsel buatan perusahaan China lainnya, OnePlus, tetapi tidak menemukan masalah.

“Kami sangat menyarankan agar lembaga negara dan publik tidak menggunakan perangkat itu dan berencana untuk memulai undang-undang yang mengatur pengadaan perangkat tertentu untuk kementerian dan berbagai lembaga negara.” kata Wakil Menteri Pertahanan Margiris Abukevicius.

Seorang juru bicara Huawei di Lithuania membantah tuduhan tersebut. Sementara Xiaomi menolak berkomentar. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD