Kondisi tersebut menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus memberikan ruang dan peningkatkan partisipasi olahraga bagi para penyandang disabilitas. Selain mendorong partisipasi masyarakat penyandang disabilitas, Kemenpora berupaya secara maksimal untuk memperpanjang kontribusi atlet disabilitas setelah memasuki masa purna, salah satu upaya yang ditempuh adalah memberikan kesempatan bagi mereka sebagai tenaga pendidik.
"Kami ingin para atlet disabilitas tetap memiliki ruang untuk mengabdi setelah masa purnanya. Pengalaman dan prestasi mereka sangat berharga untuk dibagi serta membina adik-adik kita di sekolah baik di pusat maupun di daerah sehingga lahir generasi atlet disabilitas yang semakin berprestasi," katanya.
Sementara itu, Inisiator Bhinneka Run 2026 Rahayu Saraswati mengatakan ajang yang mengusung tema Different Stories, One Finish Line" tersebut menghadirkan tiga kategori lomba, yakni 3K, 5K, dan 10K. Ajang tersebut digelar di TMII untuk menghadirkan suasana berbeda dengan penampilan kesenian tradisional, seperti tanjidor, angklung, dan tari Tor-Tor, yang menghibur peserta di sepanjang lintasan.
"Bhinneka Run 2026 adalah bukti nyata bahwa olahraga dapat menjadi perekat bangsa yang paling efektif. Melihat ribuan pelari dari berbagai latar belakang, suku, dan profesi berkumpul di sini dengan satu tujuan adalah kebanggaan luar biasa. Kita membuktikan bahwa di garis finis, kita semua adalah sama: masyarakat Indonesia yang sehat, kuat, dan mencintai keberagaman," kata Rahayu.
"Kita memberikan bantuan pembinaan kepada atlet/peserta disabilitas sama singgung biaya pendaftaran dikonversi menjadi sumbangan buku lainnya," ujarnya.