sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kisah Menarik di Balik Pendirian Taman Margasatwa Ragunan, Dulu Milik Raden Saleh

Ecotainment editor Ravie Wardhani
04/04/2026 11:20 WIB
Sebelum pengelolaan diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta, Ragunan adalah taman margasatwa milik Raden Saleh.
Kisah Menarik di Balik Pendirian Taman Margasatwa Ragunan, Dulu Milik Raden Saleh. (Foto: MNC Media)
Kisah Menarik di Balik Pendirian Taman Margasatwa Ragunan, Dulu Milik Raden Saleh. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Taman Margasatwa Ragunan menyimpan kisah masa lalu yang menarik. Cikal bakal kebun binatang tertua di Indonesia ini berawal dari lahan pribadi milik pelukis ternama, Raden Saleh

Humas Ragunan, Bambang Wahyudi, mengungkapkan bahwa pada 1864, kebun binatang ini awalnya berdiri di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dengan nama Planten en Dierentuin yang diambil dari bahasa Belanda. 

“Itu milik bangsawan ternama Indonesia, Bapak Raden Saleh. Beliau pelukis naturalis yang sangat menyukai objek satwa. Motivasi beliau adalah menjadikan satwa-satwa tersebut sebagai objek lukisannya di rumah pribadinya,” kata Bambang kepada iNews Media Group (IMG), Jumat (3/4/2026). 

Saat itu, luas lahan peliharaan Raden Saleh hanya sekitar 10 hektar. Sang pelukis memelihara beberapa satwa kesayangannya, termasuk harimau yang sering menjadi objek dalam lukisan-lukisannya. 

Lantaran banyaknya masyarakat yang ingin melihat, akhirnya area tersebut dibuka untuk umum dengan nama Taman Raden Saleh. 

Pada 1964, tepat 100 tahun setelah pendiriannya, pengelolaan diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta dan lokasi dipindahkan ke Ragunan dengan lahan yang jauh lebih luas. 

Kini, Ragunan telah berkembang dari 30 hektare menjadi 127 hektare dan menjadi kebun binatang terluas di Asia. 

Menariknya, Taman Margasatwa Ragunan masih menyimpan beberapa jenis koleksi satwa milik Raden Saleh. Bahkan, usia satwa-satwa itu disinyalir mencapai lebih dari 50 tahun. 

“Masih ada beberapa memori yang tersimpan dari Cikini. Seperti beruang Eropa itu masih hidup. Kemudian, gajah sumatera usianya sudah di atas 50 tahun. Ada juga simpanse,” ungkap Bambang.

Merujuk pada kondisi satwa tersebut yang sudah sangat tua, pengelola memutuskan untuk memberikan perawatan khusus kepada hewan-hewan ini sehingga tidak ditampilkan kepada publik.

“Kita masih merawat karena itu merupakan satu kenangan dari Cikini sampai sekarang,” jelasnya. 

Selain merawat satwa legendaris, pihak pengelola juga terus melakukan regenerasi. 

Terbaru, ada bayi orangutan berusia 3 bulan dan jenis primata gibon yang baru lahir di Pusat Primata Schmutzer, meskipun saat ini masih dalam proses karantina dan pengawasan ketat dari induknya.


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement