Ia menilai Jakarta sudah memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri perfilman. Pramono menyebut hampir 80 persen aktivitas perfilman di Indonesia berlangsung di Jakarta, mulai dari kegiatan produksi hingga berbagai aktivitas pendukungnya.
Namun, ia berharap industri film Jakarta tidak hanya berkembang di pasar domestik. Menurutnya, film-film yang diproduksi di Ibu Kota harus memiliki kesempatan untuk menembus pasar internasional, setidaknya di kawasan Asia Tenggara.
“Saya meyakini sekarang ini sebenarnya Jakarta sudah menjadi pusat perfilman di Indonesia karena hampir 80 persen aktivitas perfilman itu ada di Jakarta, dibuat dan sebagainya,” katanya.
“Tetapi akan menjadi lebih baik kalau Jakarta enggak jago kandang. Jakarta bisa keluar untuk memproduksi film-film yang sekarang ini bisa bertarung di dunia internasional, minimum di ASEAN,” lanjut Pramono.
Pramono menilai peluang untuk membawa perfilman Indonesia ke tingkat internasional cukup terbuka. Ia mencontohkan perkembangan industri musik Indonesia yang kini memiliki musisi dan seniman dengan kemampuan untuk tampil serta bersaing di panggung dunia.