“Karena apa pun yang dilakukan tanpa ekonomi, maka itu tidak akan bisa sustain,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, juga melihat fenomena kimpul sebagai contoh bagaimana makanan lokal yang sudah lama dikenal sebagian masyarakat kini bisa ditemukan kembali oleh generasi muda melalui teknologi.
“Local wisdom, lokalitas yang saat ini, kalau rekan-rekan media pasti sudah tahu, trennya mengarah ke sana: semakin lokal, semakin istimewa, semakin ada di sekitar kita, semakin dicari,” kata Made.
Menariknya, menurut Made, generasi Z justru memiliki kecenderungan untuk mencari sesuatu yang tidak terlalu mainstream. Ia menyebut fenomena ini sebagai pergeseran dari FOMO (fear of missing out) menuju JOMO (joy of missing out).
Kimpul pun menjadi contoh bagaimana makanan yang mungkin sudah akrab bagi generasi sebelumnya bisa memiliki daya tarik baru ketika ditemukan kembali oleh Gen Z.