AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Berawal dari Bisnis Buku Tahunan SMA, Wanita Muda Ini Jadi Pengusaha Hasilkan USD32 Miliar

INSPIRATOR
Suparjo Ramalan
Selasa, 07 September 2021 07:34 WIB
Perkins merupakan salah satu pendiri dan CEO Canva, yakni platform desain online yang bisa digunakan secara gratis.
Berawal dari Bisnis Buku Tahunan SMA, Wanita Muda Ini Jadi Pengusaha Hasilkan USD32 Miliar (FOTO:MNC Media)
Berawal dari Bisnis Buku Tahunan SMA, Wanita Muda Ini Jadi Pengusaha Hasilkan USD32 Miliar (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Miliarder wanita muda asal Australia, Melanie Perkins memulai bisnisnya dari buku tahunan sekolah dan kini menjadi perusahaan yang bernilai USD32 miliar dolar atau sekitar Rp456 triliun. 

Perkins merupakan salah satu pendiri dan CEO Canva, yakni platform desain online yang bisa digunakan secara gratis. Dia mulai bisnisnya dengan membangun produk desain untuk menyaingi raksasa teknologi seperti Microsoft dan Adobe.  

"Tujuan kami untuk mengambil seluruh ekosistem desain, mengintegrasikan ke dalam satu halama, kemudian membuatnya bisa diakses oleh seluruh dunia," kata dia dikutip dari CNBC, Minggu (5/9/2021).  

CEO yang saat ini berusia 32 tahun itu memulai perusahaan di Australia pada 2013 lalu dalam upaya untuk membuat desain dapat diakses oleh semua orang, baik itu logo, kartu nama, atau presentasi. Dalam lima tahun, dia menjadi terkenal karena menjadi salah satu CEO wanita termuda di bidang teknologi, saat usianya baru 30 tahun. 

Dua tahun kemudian, perusahaan yang berkantor pusat di Sydney itu kini bernilai USD3,2 miliar, membuat Perkins dan pendiri lain yang juga tunangannya, Cliff Obrecht memiliki kekayaan pribadi yang diperkirakan mencapai USD900 juta atau Rp12,83 triliun. Dan semua kekayaannya tersebut dimulai dari bisnis buku tahunan Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Perkins baru berusia 19 tahun ketika dia pertama kali dikejutkan oleh gagasan tersebut. Saat itu tahun 2006, dia dan Obrecht sedang belajar di universitas di Perth. Mereka mencari penghasilan sampingan dengan mengajar program desain untuk siswa. Namun dia menganggap platform yang ditawarkan oleh Microsoft dan Adobe sangat sulit dan dia merasa pasti ada cara yang lebih baik. 

"Orang-orang harus menghabiskan satu semester penuh untuk belajar di mana tombol-tombolnya berada, dan itu tampak sangat konyol. Saya pikir di masa depan semuanya akan online dan kolaboratif serta lebih sederhana daripada alat yang sangat sulit ini," tutur Perkins.  

Akhirnya, dia dan Obrecht mulai bekerja membuat visi itu menjadi kenyataan. Dengan sedikit sumber daya dan pengalaman bisnis, pasangan itu mulai dengan menciptakan bisnis desain buku tahunan sekolah secara online, Fusion Books, untuk menguji ide mereka. 

íMereka meluncurkan situs web bagi siswa untuk  berkolaborasi dan mendesain halaman profil dan artikel mereka. Pasangan itu kemudian akan mencetak buku tahunan dan mengirimkannya ke sekolah-sekolah di seluruh Australia. 

"Ruang tamu ibu saya menjadi kantor saya, dan pacar saya menjadi mitra bisnis saya, dan kami mulai dari sekolah untuk membuat buku tahunan mereka dengan sangat sederhana,” ucapnya. 

Bisnisnya sukses, dan tetap aktif sampai sekarang. Tetapi bagi Perkins, itu hanyalah langkah pertama dalam apa yang dia sebut sebagai mimpi besar yang gila untuk situs desain terpadu. Setelah itu, dia mulai mencari investor. 

Pada 2010, saat menghadiri konferensi di Perth, Perkins menerima terobosan besar pertamanya. Dia bertemu dengan investor Silicon Valley, Bill Tai yang membantunya memberi jalan dalam mendapatkan investor besar dan membangun platform desain Canva dengan tim teknis teknologi yang berkembang pesat. 

Pada 2012, bisnisnya dimulai dengan sungguh-sungguh. Dengan bantuan penasihat teknologi dan salah satu pendiri Google Maps, Lars Rasmussen, Perkins dan Obrecht menemukan salah satu pendiri teknologi di Cameron Adams dan pengembang teknologi di Dave Hearnden. 

Beberapa bulan kemudian, pada penutupan putaran pendanaan pertama mereka, perusahaan itu kelebihan permintaan. Dia mendapatkan pendanaan awal sebesar USD15 juta. Tahun berikutnya, situs tersebut ditayangkan, dan memungkinkan pelanggan membuat berbagai desain online secara gratis. 

Saat ini, Canva telah membantu menciptakan hampir 2 miliar desain di 190 negara dan mendapatkan dukungan selebriti seperti Owen Wilson dan Woody Harrelson. Oktober 2019, dia mendapatkan pendanaan yang dipimpin oleh investor Silicon Valley, Mary Meeker sebesar USD85 juta.

Perkins berencana untuk menggunakan dana tambahan untuk memperluas timnya di Sydney, Beijing dan Manila. Selain itu, juga membangun layanan berbayar, Canva Pro dan Canva for Enterprise. 

Strategi itu akan membawa Perkins bersaing langsung dengan alat desain profesional yang dibuat oleh raksasa teknologi seperti Microsoft dan Adobe. Tetapi dengan 85 persen perusahaan Fortune 500 sudah menggunakan platformnya, dia siap menghadapi tantangan tersebut.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD