AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20116.20
-0.27%
-55.07
N225
26604.84
-0.27%
-72.96
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

Bermodal Rp50 Ribu, Penjual Lontong Daun Bisa Antarkan Keluarga Pergi Umroh

INSPIRATOR
Azhari Sultan/Kontri
Selasa, 12 April 2022 10:23 WIB
Jumilah, warga RT 02, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini, adalah seorang penggiat UMKM yang terkenal sebagai pembuat lontong nasi.
Bermodal Rp50 Ribu, Penjual Lontong Daun Bisa Antarkan Keluarga Pergi Umrah. (Foto: MNC Media)
Bermodal Rp50 Ribu, Penjual Lontong Daun Bisa Antarkan Keluarga Pergi Umrah. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Jumilah, warga RT 02, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini, adalah seorang penggiat UMKM yang terkenal sebagai pembuat lontong nasi atau lontong daun yang cukup ternama di Kota Jambi.

Bagaimana tidak, satu hari bisa menjual lontong daun hingga ribuan biji. Bahkan, konsumennya tidak hanya di Kota Jambi saja, tapi sudah merambah ke luar kota. 

Hebatnya lagi, hasil usahanya yang sudah lebih dari 20 tahun tersebut bisa mengantarkan anaknya kuliah dan bisa pergi umrah ke tanah Suci Mekkah satu keluarga.

"Alhamdulillah berkah, anak-anak bisa kuliah dan kami berempat (suami, istri dan dua anak) bisa pergi umrah pada 2014 lalu," ujarnya, Selasa (12/4/2022).

Menurutnya, apa yang dihasilkan saat ini tidaklah mudah, karena selama lebih 20 tahun tersebut banyak rintangan dan halangan yang dihadapi.

Mulanya, suaminya kerja serabutan. Sedangkan dirinya hanya berdagang kue kering dan basah. Karena, banyak saingan dan saat itu masih kurang peminatnya, pasangan suami istri ini nekat banting setir.

Hanya bermodalkan uang Rp50 ribu, keduanya mencoba berusaha membuat lontong daun. "Dulu modalnya Rp50 ribu, kita beli 4 kg beras atau segantang beras sama daun pisang," ujarnya.

Diakuinya, saat itu masih menggunakan panci (dandang) kecil untuk memasak lontong. "Alhamdulillah, sekarang sudah panci yang besar dan usahanya lama-kelamaan meningkat dari modal Rp50.000 sekarang sudah mulai berubah ekonominya," tuturnya.

Jumilah juga menambahkan, saat ini sudah bisa memproduksi sekitar 2.500 buah lontong dalam sehari semalam. "Sehari semalam bisa memasak 6 dandang. Satu dandang bisa terisi 400 buah lontong. Kita masaknya dua kali, pagi dan malam. 3 dandang pagi dan 3 dandang malam," ungkapnya.

Diakuinya, sejak banyak orang mengenal lontong daun racikannya, konsumennya sudah merambah ke luar kota. "Ada yang dari Kabupaten Tanjab Timur, dia beli 100 sampai 200 biji. Kebanyakan konsumennya pedagang lontong sayur, gado-gado, lontong kuah," imbuhnya.

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD