AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Cerita Anak Buruh Pabrik yang Sukses, Pernah Makan Nasi hanya Pakai Kecap

INSPIRATOR
Kunthi Fahmar Sandy
Kamis, 15 September 2022 07:20 WIB
Witjaksono mengatakan memakan daging ayam adalah sebuah kelangkaan
Cerita Anak Buruh Pabrik yang Sukses, Pernah Makan Nasi hanya Pakai Kecap (FOTO:MNC Media)
Cerita Anak Buruh Pabrik yang Sukses, Pernah Makan Nasi hanya Pakai Kecap (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Witjaksono adalah seorang anak buruh dan pembantu yang hidup jauh dari kehidupan glamor.

Namun siapa sangka, kini anak buruh itu berhasil menjadi pebisnis dengan aset triliunan rupiah. Pria asal Pati, Jawa Tengah ini adalah pebisnis yang memiliki puluhan perusahaan. 

Bahkan, dia juga ditunjuk sebagai ketua Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) yang ditunjuk langsung oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU

Dibalik kesuksesannya saat ini, Witjaksono berasal dari keluarga sederhana, Sang ibu bekerja di sebuah pabrik kacang yang kerjanya mengangkut karung seberat 50 kg.

"Saya itu dari keluarga enggak punya. Jadi ibu saya itu buruh di pabrik kacang. Pabrik kacang yang selama ini terkenal mereknya," ungkap Witjaksono dilansir dari kanal YouTube Coach Yudi Candra Rabu (14/9/2022).

"Ibu saya yang perawakannya kecil, ibu saya ngambil karung. Karungnya itu yang ukurannya 50 kg gitu, dipanggul di atas punggungnya beliau gini," sambungnya lagi.

Sementara itu, ayah Witjaksono adalah seorang pegawai negeri golongan 2A. Tugas sang ayah adalah mengantar surat dan menyapu halaman.

"Bapak saya pegawai negeri. Pegawai negeri golongan beliau sampai pensiun itu grade nya cuma 2A kalau enggak salah. Pekerjaannya itu cuma nganterin surat sama nyapu di kantor. Jadi ngelap-ngelap. Ya, mungkin semacam OB, lah," ungkap Witjaksono

Tak hanya itu, bungsu dari enam bersaudara ini mengaku pernah kesulitan saat akan makan. Ia hanya makan dengan nasi, kecap, dan kerupuk. Saking susahnya, ia juga pernah makan dengan telur yang dibagi delapan. "Setiap hari kita tuh makan ya, Bro, memakai telur saja itu sudah bonus. Jadi setiap hari saya makannya nasi, dikasih kecap atasnya, sama kerupuk," imbuhnya.

Witjaksono mengatakan memakan daging ayam adalah sebuah kelangkaan. Ia dan keluarga hanya memakan daging ayam setahun sekali saat Lebaran. Karena itu, ia selalu merasa rindu dengan suasana kumpul bersama saat Lebaran.

Kesuksesan yang didapat oleh Witjaksono ternyata tidak datang secara tiba-tiba. Pria kelahiran 1981 ini bahkan sudah mulai mencari uang sendiri sejak menginjak usia 6 tahun.

Saat masih duduk di bangku SD, Witjaksono bersekolah di sekolah yang sama dengan anak-anak Bupati, pejabat, dan orang kaya. Karena itu, Witjaksono mulai berjualan berbagai mainan agar dibeli oleh teman-temannya.

Barang-barang yang ia jual pun beragam mulai dari ikan hias, kelereng, hingga kartu bergambar.

"Bapak kan di Departemen Perikanan kan, di kasih ikan hias 'kamu mau enggak ini pelihara?' terus dipelihara. Pelihara terus beranak pinak banyak, saya jual ke teman sekolah. Karena kan anak-anak orang kaya, kan. Uang sakunya habis untuk beli jajan ikan hias saya," kata Witjaksono.

Saat semasa kuliah, Witjaksono bekerja di sebuah warnet. Setelah berhenti menjadi penjaga warnet, ia pun akhhirnya membuka jasa pengetikan untuk membantu para mahasiswa yang kesulitan menyusun skripsi. 

Witjaksono yang selalu memikirkan bagaimana cara mencari uang untuk membahagiakan kedua orang tuanya 

(Penulis Ridho H magang idxchannel.com)

(SAN)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD