AALI
9575
ABBA
302
ABDA
6175
ABMM
1370
ACES
1250
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3300
ADHI
805
ADMF
7575
ADMG
179
ADRO
2210
AGAR
362
AGII
1410
AGRO
1270
AGRO-R
0
AGRS
149
AHAP
66
AIMS
358
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1045
AKRA
775
AKSI
735
ALDO
1320
ALKA
296
ALMI
296
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.60
-1.04%
-5.27
IHSG
6568.17
-1.31%
-86.99
LQ45
939.34
-1.07%
-10.15
HSI
24243.61
-1.67%
-412.85
N225
27131.34
-1.66%
-457.03
NYSE
0.00
-100%
-16397.34
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
848,798 / gram

Dari Modal Rp5 Juta, Eks Mahasiswa UI Ini Sukses Ekspor Eceng Gondok ke Italia

INSPIRATOR
Leonardus Kangsaputra
Selasa, 30 November 2021 09:07 WIB
Dengan tangan kreatif, Firman Setyaji, sukses mengubah enceng gondok berhasil disulap menjadi barang bernilai jual tinggi.
Dari Modal Rp5 Juta, Eks Mahasiswa UI Ini Sukses Ekspor Eceng Gondok ke Italia. (Foto: MNC Media)
Dari Modal Rp5 Juta, Eks Mahasiswa UI Ini Sukses Ekspor Eceng Gondok ke Italia. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Dengan tangan kreatif, Firman Setyaji, sukses mengubah enceng gondok berhasil disulap menjadi barang bernilai jual tinggi. Padahal, tanaman jenis ini bagi sebagian orang kerap dipandang sebelah mata.

Keputusan alumnus kriminolog Universitas Indonesia (UI) untuk memulai bisnis eceng gondok ini tentu tidaklah mudah. Banyak pertentangan yang terjadi dalam hidup Firman. Sebab eceng gondok hanyalah hama yang kerap membuat mampet dan memenuhi sebagian besar kali.

Namun Firman berhasil membuktikan diri dengan gagasan dan ide kreatifnya dan sukses mendirikan usaha kecil menengah (UMKM) yang diberi nama Bengok Craft pada 2019. Bengok adalah nama lain dari eceng gondok versi masyarakat lokal setempat. 

"Saya waktu mulai usaha modalnya di bawah Rp5 juta. Saya beli alat press (alat untuk memipihkan eceng gondok) dan alat potong kertas seperti di tempat fotocopy," kata Firman saat diwawancarai MNC Portal beberapa waktu lalu. 

Firman bercerita bahwa usaha eceng gondoknya itu tak lantas mendadak besar seperti saat ini. Ia mulai memanfaatkan eceng gondok untuk membuat barang paling sederhana seperti buku-buku atau notes. Itu pun masih menggunakan modal seadanya.

"Karena modalnya masih terbatas, saya mengambil kertas bekas potongan yang sudah tidak terpakai lagi dari percetakan. Kan biasanya ada beberapa bagian kertas yang sebenarnya masih cukup besar, tapi sudah tidak terpakai lagi. Nah itu yang kita gunakan untuk bahan baku," lanjutnya.

Namun perjuangan pria kelahiran 1990 dalam mendirikan bisnisnya tidak hanya berhenti sampai di situ. Bisnis yang dimulai pada 2019 itu sempat diterpa kesulitan akibat pandemi Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia pada awal 2020.

Namun tekad yang kuat dan kreatifitas tinggi membuat Firman berhasil mempertahankan usahanya tersebut hingga sekarang. Saat ini sudah lebih dari 100 varian barang yang berhasil dibuat Firman menggunakan bahan baku eceng gondok.

Mulai dari tas, keranjang, sandal, topi, kaos, jaket, buku, dan masih banyak lainnya. Firman juga memiliki 20 pekerja aktif dan satu toko fisik tempat ia menjual barang kerajinannya di Desa Sejambu, Kesongo, Tuntang, Jawa Tengah.

"Untuk saat ini belum ada cabang dimanapun. Toko fisik hanya satu di Tuntang. Tapi kami sudah menjangkau e-commerce untuk menjangkau permintaan di seluruh Indonesia. Bahkan produk kami sempat terjual ke Italia," tuntasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD