“Teman-teman pedagang kecil sebenarnya punya pasar dan kemauan untuk berkembang, tetapi sering terkendala modal. Mereka ingin membeli jeruk lebih banyak dari petani, tetapi kemampuan modalnya terbatas. Karena itu, kami mencoba membentuk klaster agar bisa berkembang bersama dan memanfaatkan akses pembiayaan dari BRI. Alhamdulillah, setelah mendapatkan dukungan modal, kemampuan membeli dan menjual mereka mulai meningkat,” ujar Antoni.
Dukungan pembiayaan tersebut secara bertahap mendorong perkembangan usaha para anggota klaster. Dalam kurun waktu sekitar 4-5 tahun, sejumlah pedagang yang sebelumnya hanya mengandalkan sepeda motor untuk mengangkut hasil panen mulai beralih menggunakan kendaraan roda tiga.
Peningkatan kapasitas angkut ini memungkinkan para pedagang membeli jeruk dalam jumlah lebih besar, memperluas jangkauan distribusi, sekaligus meningkatkan skala usaha mereka.
Perkembangan serupa juga dirasakan Antoni. Dari usaha yang semula hanya mampu memperdagangkan beberapa kuintal jeruk, kini jaringan pemasarannya telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Cirebon, Pangkalpinang, Jakarta, Lombok, hingga Papua.
Bahkan, pada periode panen raya, agen yang bekerja sama dengannya mampu mengirimkan 2-3 truk jeruk per hari, dengan kapasitas sekitar 6,5–7 ton per truk. Capaian ini mencerminkan peningkatan skala perdagangan sekaligus semakin luasnya akses pasar bagi komoditas jeruk Semboro.