IDXChannel—Kisah inspiratif Letda Tek Qorina menarik untuk diulas. Dia adalah Wanita Angkatan Udara calon penerbang militer yang kini tengah merampungkan pendidikan Wingdik 100/Terbang Lanud Adi Sucipto.
Mimpi Qorina cukup besar, dia ingin membuktikan bahwa langit tidak memiliki batasan terhadap perempuan. Lahir di Jakarta, dia kini tengah meniti karir sebagai calon penerbang TNI Angkatan Udara
"Perkenalkan diri, nama Letda Tek Korina. Asal dari Jakarta. Kami Sekbang Angkatan 106," kata Qorina saat diwawancarai, Kamis (12/2/2026).
Keinginan kuat untuk menjadi penerbang bukan tanpa alasan. Darah dirgantara mengalir dari sang ibu yang merupakan anggota Wanita Angkatan Udara (Wara) di korps Polisi Militer (Pom).
Tumbuh besar di lingkungan TNI AU justru membuat dirinya tertantang untuk melampaui capaian orang tuanya. Qorina ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki tempat di kokpit pesawat tempur.
“Motivasi kami pada awalnya terinspirasi dari ibu saya. Ibu saya merupakan wanita Angkatan Udara, sebagai seorang anak tentunya ingin mencapai sesuatu yang lebih dari orang tua kami,” ucap dia.
Langkah dirinya mengejar mimpi sebagai penerbang tidaklah mudah. Qorina harus melewati serangkaian tes yang menguras fisik dan mentalnya setelah lulus dari Akademi Angkatan Udara (AAU).
“Kami juga harus bisa, nih, seperti laki-laki, bukan malah mengecilkan diri kami. Hal-hal yang awalnya menjadi hambatan justru bisa diputar-balikkan menjadi motivasi untuk menjalani kehidupan di lingkup 106,” beber Qorina.
Namun, semua itu bukanlah penghalang, bagi dirinya menjadi penerbang perempuan adalah peluang langka di tengah jumlah penerbang yang masih sangat terbatas.
“Penerbang TNI AU saat ini jumlahnya masih terbatas. Jadi kami termotivasi bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa menerbangkan pesawat. Perempuan juga bisa apabila dilatih dengan baik dan benar,” ungkap dia.
Di Angkatan 106, dia hanya bersama satu rekan perempuan lainnya, Letda Ari. Meski demikian, hal tersebut justru menjadi bahan bakar guna menunjukkan performa terbaik tanpa adanya diskriminasi.
“Tentunya jadi, kami sebagai wara, sebagai perempuan hidup di lingkungan laki-laki ini sedikit banyak harus banyak beradaptasi. Awalnya kami bisa atau tidak ya? Ternyata begitu dijalani kami bisa menyesuaikan dengan laki-laki dengan tanpa adanya diskriminasi,” tambah dia.
Kini dia tengah menanti hasil penjurusan yang ditetapkan meski secara pribadi hatinya lebih condong ke pesawat Fixwing kategori angkut. Tapi sebagai prajurit, dia harus selalu siap untuk ditempatkan di mana saja demi tugas negara.
“Kalau kami pribadi kami lebih cenderung ke Fixwing, ke Angkut lebih tepatnya. Namun kami siap ditempatkan di mana saja,” cetus Qorina.
Latihan simulator pesawat yang harus ia jalani selama berjam-jam setiap harinya menjadi tantangan yang paling terasa. Sebab latihan tersebut sangat krusial guna meminimalisir kesalahan sekecil apapun saat melakukan penerbangan sungguhan.
“Jadi sebelum kami bisa membuat satu kali muter di atas, pastinya kami harus tahu gimana prosedurnya dulu di bawah, kami baca dulu bukunya bisa melatihkan di simulator,” tutur Qorina.
Seragam oranye yang ia kenakan masih menandakan statusnya sebagai siswa. Namun, dalam waktu dekat, ia berharap dapat menanggalkan seragam tersebut dan berganti dengan seragam hijau kebanggaan penerbang agar langsung bersiap mengawal kedaulatan dirgantara Indonesia.
“Ketika nanti sudah fix menjadi penerbang, seragamnya tidak lagi warna yang orange, warna hijau seperti instruktur kami yang ada,” tutup dia.
(Nadya Kurnia)