AALI
9900
ABBA
392
ABDA
0
ABMM
1465
ACES
1240
ACST
234
ACST-R
0
ADES
2850
ADHI
1035
ADMF
7725
ADMG
192
ADRO
1815
AGAR
340
AGII
1520
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
175
AHAP
67
AIMS
460
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
905
AKRA
4120
AKSI
420
ALDO
1050
ALKA
244
ALMI
234
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2021/12/02 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
504.81
1.33%
+6.61
IHSG
6547.72
0.62%
+40.04
LQ45
943.05
1.24%
+11.51
HSI
23713.36
0.23%
+54.44
N225
27750.67
-0.66%
-184.95
NYSE
16133.89
-1.13%
-185.08
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,350
Emas
821,360 / gram

Kisah Sukses UMKM Ayaman Bambu Menggali Cuan di Masa Pandemi

INSPIRATOR
Anggie Ariesta
Jum'at, 13 Agustus 2021 13:14 WIB
Pandemi menjadi pukulan telak bagi banyak pelaku usaha yang kehilangan omzet pendapatan akibat adanya pembatasan mobilitas para konsumen.
Kisah Sukses UMKM Ayaman Bambu Menggali Cuan di Masa Pandemi. (Foto: MNC Media)
Kisah Sukses UMKM Ayaman Bambu Menggali Cuan di Masa Pandemi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pandemi menjadi pukulan telak bagi banyak pelaku usaha yang kehilangan omzet pendapatan akibat adanya pembatasan mobilitas para konsumen demi memutus penyebaran Covid-19.

Pukulan yang sama juga pernah dirasakan oleh Emiliana (38), perempuan perajin anyaman bambu dari Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. 

Emiliana adalah salah satu garda terdepan perlindungan hutan yang membantu memastikan ekosistem tetap terjaga supaya bambu bahan baku kerajinannya bisa selalu tersedia maka itu ia memanfaatkan promosi lewat platform digital.

“Sebelum pandemi, produk kami dibeli oleh wisatawan yang datang ke toko. Sejak pandemi, kondisinya berubah total, toko sangat sepi. Setelah memanfaatkan promosi lewat platform digital, pesanan bisa datang dan kami kerjakan secara berkelompok,” kata Emi dalam keterangan yang diterima, Jumat (13/8/2021).

Selama hampir satu tahun di awal pandemi, ibu dua orang anak yang sudah 10 tahun menjalani usaha kriya ini harus kehilangan pemasukan karena usahanya sangat bergantung pada wisatawan yang datang ke Sintang.

Akan tetapi, pepatah ‘dari buntung jadi untung’ dirasakan langsung saat Emi dan ratusan perajin lain yang tergabung dalam Koperasi Jasa Menenun Mandiri (JMM) di kabupaten itu mulai berkenalan dengan dunia digital yang difasilitasi melalui kolaborasi asosiasi pemerintah daerah kabupaten Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LKTL) bersama Krealogi oleh Du’anyam. 

Peralihan menuju pasar digital itu berbuah manis. Saat Hari Lebaran tahun lalu, Koperasi JMM berhasil menerima pesanan 80 produk anyaman dengan omzet mencapai sekitar Rp15 juta.

Pesanan itu masih mengalir hingga kini. Emi mengaku saat ini rata-rata pendapatannya dari menganyam mencapai Rp1 juta per bulannya. 

Lewat pelatihan ini, JMM juga belajar menggunakan sistem tata niaga digital untuk dapat mengelola pesanan koperasi secara berkelompok dengan lebih efisien dan mampu memastikan semua produk punya kualitas yang sama baiknya.

Direktur Koperasi JMM Sintang, Sugiman mengatakan, para perajin kini memasarkan produknya ke ragam platform digital seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram.

“Akses internet memungkinkan masyarakat desa untuk menggunakan WhatsApp, Facebook dan Instagram. Dengan begitu, para perajin bisa mempromosikan produk buatannya sendiri ke masyarakat yang lebih luas. Hingga saat ini, pesanan terhadap produk buatan kami juga terus berdatangan,” kata Sugiman.

Kendati demikian, buah manis dari bisnis digital belum dirasakan secara luas oleh banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di pelosok negeri.

Bank Indonesia memperkirakan nilai transaksi perdagangan digital (eCommerce) sampai akhir tahun ini mencapai Rp395 triliun atau tumbuh 48,4% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sayangnya, dari peningkatan transaksi yang signifikan itu, partisipasi produk UMKM sangat minim, hanya berkisar di angka 6-7%. Selebihnya, barang yang dijual di beragam marketplace dalam negeri berasal dari produk impor. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD