AALI
9975
ABBA
400
ABDA
0
ABMM
1450
ACES
1305
ACST
230
ACST-R
0
ADES
2950
ADHI
1025
ADMF
7700
ADMG
210
ADRO
1700
AGAR
340
AGII
1600
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
177
AHAP
65
AIMS
486
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
860
AKRA
3970
AKSI
416
ALDO
1020
ALKA
244
ALMI
246
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/11/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
497.28
-2.19%
-11.12
IHSG
6533.93
-1.13%
-74.36
LQ45
930.98
-2.07%
-19.70
HSI
-74.94
-100.31%
-23927.18
N225
346.43
-98.78%
-27937.49
NYSE
59.11
-99.64%
-16565.76
Kurs
HKD/IDR 1,834
USD/IDR 14,318
Emas
825,609 / gram

Mengolah Limbah Jadi Cuan, Intip Inovasi Warga Jambi Buat Piring Pelepah Pinang

INSPIRATOR
Ahmad Haidir
Jum'at, 27 Agustus 2021 11:21 WIB
Warga Desa Sinar Wajo dan Desa Sungai Beras, Jambi membuat sebuah inovasi yang bernilai bisnis dari limbah pelepah pinang.
Mengolah Limbah Jadi Cuan, Intip Inovasi Warga Jambi Buat Piring Pelepah Pinang (Dok.Ist)
Mengolah Limbah Jadi Cuan, Intip Inovasi Warga Jambi Buat Piring Pelepah Pinang (Dok.Ist)

IDXChannel –  Masyarakat Jambi membuat sebuah inovasi yang bernilai bisnis dari limbah pelepah pinang. Hasil dari kreativitas tersebut adalah piring pelepah pinang cantik. 

Sebagian pembuat piring pelepah pinang adalah warga Desa Sinar Wajo dan Desa Sungai Beras yang berlokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Mereka tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), yaitu KUPS Lojo’ Kleppaa dan KUPS Kodopi Mitra Madani. 

Sejak pandemi, permintaan akan pinang dan harga pinang terus menurun. Menjelang akhir tahun 2020 masyarakat sekitar mulai mengembangkan piring pelepah pinang yang idenya mereka bawa dari luar desa. 

Melalui akun Instagram-nya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Uno mengungkapkan apresiasi atas inovasi tersebut dan menyebutnya sebagai langkah cemerlang. Menurutnya inovasi tersebut telah menghadirkan lapangan kerja baru yang mengedepankan aspek kelestarian lingkungan.  

Untuk saat ini piring yang nantinya diharapkan menjadi alternatif bahkan dapat menggantikan piring berbahan styrofoam itu masih dijual di sekitar wilayah Jambi saja. Namun begitu, sang produsen piring diyakini sedang mempersiapkan untuk proses komersialisasi atau penjualan secara lebih luas via online.

Pengrajin memanfaatkan sampah dari pelepah pinang luar biasa banyak. Jika pelepah itu dibiarkan berserakan di perkebunan dan kemudian mengering, saat musim kemarau sampah pelepah itu jadi mudah terbakar. Hal ini berbahaya karena bisa memicu kebakaran lahan.

“Ketika inovasi piring pelepah pinang dikembangkan, petani diuntungkan. Mereka tidak harus membersihkan area perkebunan dari pelepah yang setiap hari berjatuhan dan mengotori kebun. Perajin boleh mengambil dan memanfaatkan limbah pelepah itu sebagai bahan baku, tanpa harus membayar sedikit pun. Jadi, bahan baku yang begitu berlimpah bisa didapatkan secara gratis,” kata Ayu.  

Untuk membuat piring, pelepah pinang yang baru jatuh sekitar satu-dua hari diambil, lalu dicuci dengan sabun pencuci piring yang aman untuk bahan makanan, dijemur selama kurang lebih 3 – 4 jam. Setelah pelepah kering, piring dicetak dengan alat mesin molding hot press dengan suhu 120 derajat celcius. Satu menit kemudian, piring sudah siap digunakan. 

Dalam proses pembuatannya, perajin tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Piringnya pun lebih kokoh daripada piring kertas, karena pelepah pinang memang tebal dan berlapis lilin. Pengeringannya mengandalkan sinar matahari. “Piring ini juga tahan lama. Jika sudah dijemur hingga benar-benar kering, ia tidak akan berjamur sama sekali, meski disimpan di dalam lemari tertutup. Jika sudah selesai digunakan, piring bisa dibuang seperti membuang daun pisang. Dia akan terurai di alam tanpa merusak lingkungan,” kata Ayu.

Konsep piring ini memang bukan satu kali pakai. Artinya, konsumen bisa menggunakannya berulang hingga maksimal 8 kali. Karena itu, piring pelepah pinang bisa menggeser posisi styrofoam. 

Sejak mulai menekuni usaha piring pelepah pinang pada November 2020, hingga April 2021 kedua desa ini sudah menjual sekitar 400 buah piring secara total. Harga satu buah piring berkisar antara Rp5.000 – Rp6.000. 

Ayu menjelaskan, kalau piringnya dibentuk seperti styrofoam yang tertutup, artinya memerlukan dua buah piring pelepah yang kemudian ditangkupkan. Itu berarti harganya bisa menjadi dua kali lipat. Harga ini masih terbilang murah, jika dibandingkan harga piring yang dipasarkan melalui toko online. Ayu pernah menemukan piring yang sama dijual seharga Rp16.000 di Bali. 

Sejauh ini piring tersebut baru dipasarkan di sekitar Jambi, belum meluas ke daerah lain. Robert Rudini, content creator yang juga konsultan traveling, menyarankan, agar bisa menjangkau konsumen di wilayah lain, ada baiknya dibuatkan konten di media sosial. Sebagai langkah awal, konten itu berisi cara menggunakan piring pelepah pinang. “Orang belum bisa membayangkan, bagaimana jika piring ini diberi kuah atau saus, apakah akan bocor atau tidak. Dengan konten yang tepat, buyer yang tertarik bisa melihat referensi konten. Setelah membuat konten, kita bisa bergerak aktif mencari buyer yang memakai produk sejenis,” kata Rudi, yang melihat bahwa demand terbesar adalah Jawa dan Bali.  


Piring yang dipasarkan kini tersedia dalam berbagai ukuran dan bentuk. Ada yang persegi panjang, ada juga yang bundar dalam diameter berbeda-beda. Dari segi warna, piring tersebut terbagi menjadi 3 grade, yaitu A, B, dan C. Grade A adalah piring nyaris tanpa corak atau polos, grade B adalah piring setengah bermotif, dan grade C adalah piring dengan banyak motif. 

 
“Inovasi piring pelepah pinang ini telah meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya di tengah berbagai pembatasan terkait penanggulangan pandemi Covid-19. Di samping itu, kedua desa ini mendapatkan ancaman konversi lahan. Ada wacana bahwa komoditas pinang yang ramah gambut ini akan dialihkan menjadi komoditas tidak ramah gambut, seperti sawit. Jika telah mendapatkan penghasilan tambahan dari piring pelepah, para petani bisa tetap menanam pohon pinang dan tetap menjaga kelestarian ekosistem gambut, khususnya di wilayah Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh,” kata Asrul Aziz Sigalingging, Koordinator Project KKI Warsi. 

Piring hasil produksi kedua desa itu pun sudah diberi merek sesuai nama KUPS mereka. Jika membeli produk mereka, konsumen akan mendapatkan kartu cantik berisi ucapan terima kasih, karena secara langsung telah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sekaligus menyelamatkan ekosistem lahan gambut.  

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD