AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Rancang Robot Canggih, Petani Sukses Budidayakan Jamur Tiram di Dataran Rendah

INSPIRATOR
Taufik Budi/Sindonews
Selasa, 28 September 2021 11:35 WIB
Petani jamur tiram di Kota Semarang Jawa Tengah memanfaatkan sistem robotik untuk meningkatkan produktivitas.
Petani jamur tiram di Kota Semarang Jawa Tengah memanfaatkan sistem robotik untuk meningkatkan produktivitas. (Foto: MNC Media)
Petani jamur tiram di Kota Semarang Jawa Tengah memanfaatkan sistem robotik untuk meningkatkan produktivitas. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Petani jamur tiram di Kota Semarang Jawa Tengah memanfaatkan sistem robotik untuk meningkatkan produktivitas. Meski berada di daerah dataran rendah dengan suhu relatif panas, namun produktivitas dan kualitas tak kalah dari budidaya jamur di dataran tinggi.

Budidaya jamur tiram itu berada di Kelurahan Pongangan Kecamatan Gunungpati Semarang, yang diinisiasi oleh Muji Syukur. Kualitas jamur yang dihasilkan sangat memuaskan, di antaranya memiliki kelopak besar dan berwarna putih bersih.

Bukan perkara mudah menghasilkan jamur berkualitas di dataran rendah. Sebab, area tumbuh ideal jamur berada di dataran tinggi dengan suhu relatif dingin. Penyiraman secara manual tak dapat menolong jamur tumbuh dengan baik.

Di tengah kegelisahan itu, dia mulai merancang sistem yang bisa melakukan penyiraman secara otomatis terutama ketika suhu dirasa panas. Pria yang juga berprofesi sebagai dosen Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang itu kemudian menggaet rekannya untuk merancang sistem roboti

“Teknologi yang melatarbelakangi (sistem robotik) adalah karena petani di dataran rendah itu mengalami kendala yaitu cuaca yang tidak stabil dan panas. Di daerah dataran rendah itu di atas 30 derajat Celsius,” kata Muji, Selasa (28/9/2021).

“Maka dari itu para petani jamur yang mencoba untuk membudidayakan jamur di dataran rendah tidak bisa mencapai hasil yang maksimal. Oleh sebab itu perlu bantuan sebuah alat yang mampu mengondisikan kelembaban dan suhu sesuai dengan kebutuhan habitat jamur seperti di alam bebas,” beber dia.

Bersama rekannya sesama dosen, Edi Nur Raharjo, melakukan penelitian untuk mengetahui kondisi ideal tumbuh jamur. Mereka juga meminta masukan dari sejumlah petani jamur tiram di berbagai daerah. Termasuk meneliti budidaya jamur tiram di kawasan Bandungan Kabupaten Semarang, yang memiliki suhu dingin.

“Berawal dari penelitian-penelitian yang kami lakukan, karena selain bisnis di jamur kami juga sebagai akademisi. Di masa itu muncul ide, ada masalah kira-kira masalah itu bisa terselesaikan dengan suatu sistem pendukung keputusan yang nanti bisa mengondisikan kumbung (rumah budidaya jamur) menjadi kondisi yang ideal, sesuai dengan kebutuhan habitat jamur,” jelasnya.

Hasil penelitian segera dirumuskan menjadi sistem alat robotik yang secara real time memantau lingkungan rumah budidaya jamur. Suhu dan kelembaban menjadi indikator utama yang dipantau menggunakan sensor.

“Setelah menerapkan alat tersebut yang namanya Unoumi, kalau produksi sebelum dan sesudah saya menggunakan alat ini adalah bahwa peningkatannya cukup signifikan, terutama hasil panen. Ketika saya belum menggunakan alat ini kisaran panennya per 1.000 baglog hanya sekira 2,5 kuintal, tapi dengan dengan alat ini hasil yang kami peroleh bisa sampai 3,5 kuintal per 1.000 baglog,” pungkasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD