Perilaku inefisiensi telah memicu lahirnya beragam platform penyewaan pakaian. Ini menyasar konsumen yang memiliki kesadaran. Mereka butuh solusi yang membuat mereka tidak lagi merasa bersalah dengan fast fashion.
Dimulai di AS tahun 2009 lalu, industri mode sirkular pun langsung berkembang dalam sepuluh tahun terakhir. Ini menginspirasi merek lainnya di berbagai negara. Namun, akses logistik di Asia Tenggara membuat pasar sulit ditaklukkan. Ini yang menyebabkan Lim dan Halim langsung melakukan uji coba pertama kalinya.
"Kami memulai dengan membuat daftar tunggu pelanggan. Jadi ini mengakali agar bajunya cukup bagi pelanggan," kata pimpinan eksekutif Halim. "Seiring pelanggan yang bertambah, membuktikan apa yang kami lakukan benar atau salah. Lalu kami terus kembangkan dari sana,".
Menggunakan Pendekatan Berbasis Data
Dengan pendekatan berbasis data, pasangan tersebut beralih dari yang tadinya secara inhouse lalu beralih jadi konsinyasi atau penitipan di tahun 2019.
Di bawah konsep baru, Style Theory, memegang saham atas nama para desainer dan individu. Sehingga ini menguntungkan mereka setiap satu item disewa. Perusahaan kemudian mengambil potongan USD95 untuk biaya berlangganan bulanan tak terbatas untuk manajemen fee, kurir dan pembersihan.