AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Selalu Merasa Tak Punya Baju untuk Dipakai, Pasangan Ini Sukses Bangun Startup Sewa Busana

INSPIRATOR
Hafid Fuad/Koran Sindo
Minggu, 15 Agustus 2021 10:50 WIB
Pasangan suami dan istri Chris Halim dan Raena Lim sukses membangun start up sewa busana, Style Theory.
Pasangan suami dan istri Chris Halim dan Raena Lim sukses membangun start up sewa busana, Style Theory. (Foto: CNBC)
Pasangan suami dan istri Chris Halim dan Raena Lim sukses membangun start up sewa busana, Style Theory. (Foto: CNBC)

IDXChannel - Pasangan suami dan istri Chris Halim dan Raena Lim sukses membangun start up sewa busana di Singapura, Style Theory. Pada 2019, startup tersebut menjadi unicorn dengan valuasi USD1,2 miliar.

Uniknya ide membangun startup tersebut timbul ketika Lim memiliki problematika yang hampir dirasakan semua perempuan yaitu: selalu merasa tidak punya pakaian untuk dipakai. 

"Momen 'aha' itu tiba ketika Chris bertanya serius 'mengapa kamu punya begitu banyak baju dan kamu selalu mengeluh bahwa kamu tidak punya pakaian?'" ujar Lim.

"Bagi seorang berlatar belakang finance, terbiasa dengan logika dan matematika, itu mendadak terasa sangat ganjil. Itu benar-benar respon yang sangat tidak logis dalam hal fashion," kata lim yang merupakan seorang mantan bankir Goldman Sachs.

Akhirnya mereka menginvestasikan USD40.000 untuk usahanya di industri mode. Pasangan berusia 32 tahun ini berupaya memperbaiki usaha sewa pakaian melalui aplikasi Style Therory.

“Kami memang memasukkan sekitar USD40.000. Sejujurnya, kami tidak tahu apakah kami bodoh atau berani,” ujar pasangan yang memutuskan berhenti dari pekerjaan untuk memulai bisnis ini, dilansir dari CNBC News, Sabtu (14/8/2021).

Lim dan Halim merupakah salah satu pendiri Style Theory, platform persewaan busana Singapura yang memungkinkan pelanggan meminjamkan barang tak terbatas dengan biaya bulanan tetap.

Start-up yang didukung SoftBank ini memiliki lebih dari 200.000 pengguna terdaftar di Singapura dan Indonesia. Di mana layanan yang ditawarkan inventaris 50.000 pakaian dan lebih dari 2.000 tas.

Dalam awal karirnya Lim bekerja untuk perusahaan non-profit di Kenya. Lalu Lim ingin memulai sebuah proyek yang memungkinkannya melakukan kebaikan. Dan dengan bertambahnya kerusakan lingkungan akibat praktik fast fashion maka misinya semakin jelas.

Industri tekstil menjadi salah satu penghasil polusi terbesar di dunia, dengan emisi global setara dengan 1,2 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya. Ini lebih banyak daripada gabungan semua penerbangan dan pengiriman internasional.

Perilaku inefisiensi telah memicu lahirnya beragam platform penyewaan pakaian. Ini menyasar konsumen yang memiliki kesadaran. Mereka butuh solusi yang membuat mereka tidak lagi merasa bersalah dengan fast fashion.

Dimulai di AS tahun 2009 lalu, industri mode sirkular pun langsung berkembang dalam sepuluh tahun terakhir. Ini menginspirasi merek lainnya di berbagai negara. Namun, akses logistik di Asia Tenggara membuat pasar sulit ditaklukkan. Ini yang menyebabkan Lim dan Halim langsung melakukan uji coba pertama kalinya.

"Kami memulai dengan membuat daftar tunggu pelanggan. Jadi ini mengakali agar bajunya cukup bagi pelanggan," kata pimpinan eksekutif Halim. "Seiring pelanggan yang bertambah, membuktikan apa yang kami lakukan benar atau salah. Lalu kami terus kembangkan dari sana,".


Menggunakan Pendekatan Berbasis Data

Dengan pendekatan berbasis data, pasangan tersebut beralih dari yang tadinya secara inhouse lalu beralih jadi konsinyasi atau penitipan di tahun 2019.

Di bawah konsep baru, Style Theory, memegang saham atas nama para desainer dan individu. Sehingga ini menguntungkan mereka setiap satu item disewa. Perusahaan kemudian mengambil potongan USD95 untuk biaya berlangganan bulanan tak terbatas untuk manajemen fee, kurir dan pembersihan.

Kebijakan tersebut berhasil menarik investor, termasuk SoftBank, Alpha JWC Ventures dan perusahaan real estate Indonesia the Paradise Group, hingga telah berinvestasi sekitar USD30 juta dalam perusahaan tersebut.

"Masalah yang mereka pecahkan jelas untuk para pengguna dan, dalam kasus ini, banyak pengguna wanita. Tetapi ini juga menyediakan solusi bagi pemasok atau para desainer untuk dapat mencapai pasar target ini secara lebih langsung, "Jefrey Joe, mitra pengelola di Alpha JWC Ventures.


Industri yang Modis

Seluruh pendanaan tersebut menunjukkan minat investasi di sektor yang baru, tapi juga terus bertumbuh.

Industri penyewaan pakaian online memiliki valuasi USD 1,2 miliar di seluruh dunia pada tahun 2019. Pada tahun 2027, angka itu diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat hingga USD2,8 Miliar.

Sebagian besar dari pertumbuhan itu mayoritas digerakkan Asia-Pasifik, di mana bisnis penyewaan pakaian akan terganggu dengan Style Theory. Menurut perusahaan riset pemasaran Nester, kawasan ini diperkirakan akan menguasai hampir seperempat (22,14%) dari seluruh pasar dalam waktu enam tahun.

"Ukuran pasar untuk segmen ini masih kecil … (tetapi) kita juga melihat potensi yang besar, "kata Joe. "Pasar pakaian sirkular ini cukup besar untuk menciptakan satu unicorn dari Asia Tenggara," katanya.

Koleksi yang Tak Lekang Waktu

Para pendiri Style Theory yakin bisnis sewa pakaian tidak mengenal musim. Dalam lima tahun terakhir, mereka mengatakan telah memfasilitasi lebih dari 2,3 juta sewa dan menyimpan lebih dari 600.000 desainer barang bekas yang terancam masuk pembuangan sampah.

Sekarang, mereka berencana untuk menargetkan pasar baru dan basis konsumen baru. Strateginya menambahkan konsumen laki-laki dan anak-anak dan memperluas pasar ke Hong Kong di akhir tahun ini.

Tapi meskipun menantang, suami istri tersebut mengatakan mereka telah menemukan pasangan yang cocok untuk pakaian mereka.

"Pada dasarnya, bisnis ini seperti bayi bagi kami," kata Halim. "Kepercayaan penuh, keselarasan 100%, benar-benar sangat membantu dan sangat penting ketika Anda membuat keputusan penting bersama-sama." (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD