AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Tak Disangka, Korban Bullying Ini Sukses Bangun Bisnis di Usia 17 Tahun

INSPIRATOR
Aditya Pratama/iNews
Rabu, 29 September 2021 06:35 WIB
Sebelum memutuskan menjadi wirausaha, Hong mengalami masa-masa sulit. Dia merupakan korban bullying teman-temannya.
Tak Disangka, Korban Bullying Ini Sukses Bangun Bisnis di Usia 17 Tahun (FOTO:MNC Media)
Tak Disangka, Korban Bullying Ini Sukses Bangun Bisnis di Usia 17 Tahun (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Sukone Hong, pria 17 tahun berhasil membangun dua bisnis dan menjadi CEO. Bisnis remaja Korea Selatan ini bergerak di bidang fashion dan jam tangan pintar atau smartwatch braille untuk tunanetra.   

Bisnis fashion-nya telah mengantongi penjualan lebih dari 1 juta dolar AS atau Rp14,2 miliar tahun ini. Sementara bisnis smartwatch braille mencatat pesanan mencapai ribuan unit.  

Sebelum memutuskan menjadi wirausaha, Hong mengalami masa-masa sulit. Dia merupakan korban bullying teman-temannya.  

"Saya seperti di-bully. Saya harus menemukan sesuatu yang dapat mengubah hidup saya," katanya, dikutip dari cnbc Internasional, Minggu (19/9/2021).  

Hong pun memulai bisnisnya empat tahun lalu, ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Kala itu, dia harus berjuang menyesuaikan diri dengan teman-teman sekelasnya dengan mencari kegiatan lain, dan memutuskan menjual pakaian bermerek lewat mesin pencari Korea Selatan, Naver.   

Namun uang yang dimilikinya sebesar 150 dolar AS tidak cukup untuk menjalankan bisnis, sehingga harus mengubah strategi. Dia akhirnya meminjam uang kakek dan neneknya sebesar 5.000 dolar AS dan melibatkan bisnis percetakan. 

Hong mulai membuat situs pakaiannya sendiri, yang menawarkan pakaian kasual unisex dengan desain sederhana dan ceria. Dari sini lahirlah Olaga Studio.  

"Tidak ada yang terjadi selama seminggu. Kemudian pada Senin pagi, ada sekitar 15 pesanan. Lima puluh pesanan saat makan siang. Delapan puluh pada malam hari. Seminggu itu saya menjual 300 kemeja," ujar Hong.  

Tiga tahun setelah didirikan, produknya sukses secara regional dan mencatatkan penjualan tahunan sebesar 1,2 juta dolar AS atau Rp17,12 miliar dari enam pasar Asia. Bahkan menjadi peringkat pertama dalam kategori kaos Style Share.  

Sementara bisnis smartwatch braille didirikan dengan tujuan membantu tunanetra menerima informasi, seperti teks dan pesan dari ponsel mereka. Paradox Computers adalah perusahaan di balik smartwatch braille miliknya.  

Sebenarnya jam tangan seperti ini sudah beredar di pasaran selama beberapa tahun. Namun harganya mahal, biasanya lebih dari 300 dolar AS, sehingga sulit diakses oleh banyak tunanetra. 

Setelah mengerjakan proyek sekolah tentang disabilitas, Hong menyadari ketidaksetaraan dan memutuskan harus ada pilihan lain yang lebih terjangkau. 

"Saya menemukan bahwa ini sangat tidak adil. Dan, pada saat yang sama, ini adalah peluang bagus untuk bisnis," ucap Hong.  Jadi, dia mulai memahami pasar, berbicara dengan orang-orang tunanetra untuk mengetahui kebutuhan mereka, dan para teknisi untuk mencari solusi. Kemudian, dengan jaringan yang dimiliki dari bisnis fashion-nya, Hong berhasil mendapatkan pendanaan sebesar 300.000 dolar AS. 

"Latar belakang saya sebagai CEO membantu saya. Saya belajar bahwa meskipun saya tidak memiliki latar belakang teknologi, saya dapat mempekerjakan semua orang ini," tuturnya. 

Enam bulan berlalu, Paradox Computers menjual smartwatch seharga 80 dolar AS dan telah terjual ratusan unit. Saat ini ada 3.000 pre-order dari China.  Dan meski telah sukses, Hong berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikannya. 

"Ketika bisnis berkembang pesat, saya berpikir untuk putus sekolah. Tapi saya bertemu banyak CEO dan mereka semua mengatakan kepada saya bahwa saya harus kuliah," kata Hong.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD