Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka taman baca untuk anak-anak di sekitar permukiman padat penduduk. Terlebih, lokasi perbatasan dan pinggiran kota yang cenderung jauh dari perpustakaan, sehingga ia ingin lebih mendekatkan buku kepada masyarakat.
“Pengennya buku-buku itu bisa dimanfaatkan oleh orang banyak, terus bisa bermanfaat informasi yang ada di dalam buku itu. Alasan kedua juga perpustakaan tuh boleh dikatakan langka. Harusnya di setiap RW itu ada perpustakaan, mungkin di kantor RW atau balai warga. Itulah motivasi kenapa pengen bikin taman baca atau perpustakaan masyarakat di permukiman,” tutur Edi.
Tidak hanya menjadi tempat literasi, bagi Edi, yang ia inginkan adalah hadirnya Taman Baca Kampung Buku di sudut Jakarta ini yang bisa menjadi alternatif rekreasi dan edukasi bagi anak-anak.
“Dijadikan tempat rekreasi. Jadi, taman baca ini tempat bermain, tempat berwisata. Jadi, enggak hanya ke mal, taman baca atau perpustakaan juga bisa dijadikan salah satu pilihan untuk rekreasi,” ungkap dia.
Namun, membesarkan Taman Baca Kampung Buku tak semudah membalikkan telapak tangan. Edi harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk terpaksa berpindah tempat sebanyak dua kali, yakni pada 2003 dan 2007.