IDXChannel—Simak deretan saham konglomerasi dengan PBV rendah. Dalam satu tahun terakhir, saham yang berkaitan dengan grup konglomerat menjadi primadona di kalangan investor ritel.
Banyak di antaranya mencatatkan pertumbuhan harga secara signifikan sepanjang 2025 sebelum akhirnya terkoreksi tajam usai MSCI mengumumkan peringatan tentang transparansi data pemegang saham pada 28 Januari 2026.
Namun, usai terkoreksi tajam, saham-saham konglomerat yang menurun itu telah kembali aktif diperdagangkan. Bahkan kini mencatatkan rebound dengan pergerakan harga positif.
Oleh sebab ramai diperdagangkan, tidak mengherankan bila saham-saham terasosiasi konglomerat kini mencatatkan price to book value yang tinggi. Sebagai contoh, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang kini PBV-nya 107,69 kali.
Atau PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dengan PBV 24,94 kali, yang artinya saham milik Hapsoro ini diperdagangkan 24,94 kali lebih mahal dibanding harga wajarnya, yakni Rp59,13 per saham.
Price to book value adalah rasio valuasi yang mengukur apakah harga saham perusahaan mahal atau murah bila dibandingkan dengan nilai wajarnya. Rasio ini umum dipakai untuk mengukur apakah harga pasar suatu saham sudah mahal atau masih undervalued.
Secara teori, jika PBV suatu saham adalah 1x atau di bawah 1, berarti harga pasar saham tersebut masih murah. Sebab harganya masih di bawah nilai wajarnya. Sebaliknya, semakin besar angka PBV, semakin mahal harga saham dibandingkan dengan nilai wajarnya.
9 Saham Konglomerasi dengan PBV Rendah
Perlu diingat, saham dengan PBV tinggi bisa saja tengah diapresiasi oleh pasar karena beragam faktor. Misalnya, karena potensi bisnisnya di masa depan, atau karena berita terbaru terkait emitennya yang dianggap menarik oleh investor.
Sebaliknya, saham dengan PBV rendah bukan berarti bisnis atau kinerja emitennya kurang menarik, sehingga harga sahamnya stagnan. Namun, boleh jadi pasar belum mengapresiasi saham tersebut karena beragam sebab.
Selain itu, PBV bukanlah satu-satunya rasio yang digunakan investor dan trader untuk menyisir saham-saham murah potensial. Masih banyak rasio dan perhitungan lain yang digunakan untuk mendukung keputusan beli para investor dan trader.
Dari deretan saham-saham konglomerasi yang harga pasarnya telah teraprerasi, masih ada sejumlah saham konglo yang masih terbilang undervalued.
Berikut ini adalah deretan saham konglomerasi dengan PBV rendah, dengan skor PBV tertinggi berada di angka 1 kali.
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
PBV: 0,44x
Nilai wajar: Rp2.014
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PBV: 0,45x
Nilai wajar: Rp15.484
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
PBV: 0,47x
Nilai wajar: Rp20.494
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
PBV: 0,63x
Nilai wajar: Rp12.012
PT Ciputra Tbk (CTRA)
PBV: 0,66x
Nilai wajar: Rp1.242
PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk (SMAR)
PBV: 0,74x
Nilai wajar: Rp7.453
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)
PBV: 0,83x
Nilai wajar: Rp3.176
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
PBV: 0,84x
Nilai wajar: Rp8.002
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
PBV: 0,85x
Nilai wajar: Rp2.635
Dari kesembilan saham di atas, empat di antaranya adalah saham dari Sinar Mas. Lalu ada dua saham dari grup Astra International. Disusul grup Ciputra, Salim, dan Boy Thohir.
Itulah informasi singkat tentang 9 saham konglomerasi dengan PBV rendah.
(Nadya Kurnia)