Bahkan, Djap Tet Fa menyampaikan, harga solar nonsubsidi kini sudah melonjak hingga 90 persen imbas terjadinya perang di Timur Tengah. Sehingga, hal ini menyebabkan biaya operasional perseroan turut membengkak.
"Sampai bulan April ini peningkatan sudah hampir 90 persen. Biasanya Rp14 ribu-Rp15 ribu (per liter), sekarang mungkin sudah hampir Rp25 ribu (per liter)," ujarnya.
Selain itu, kata Djap Tet Fa, perseroan juga akan fokus kegiatan replanting atau penanaman kembali lahan seluas 8.000 hektare (Ha) sepanjang tahun ini. Sebab, rata-rata usia tanaman sawit mulai menua dan produktivitasnya menurun.
"Maka replanting menjadi fokus strategi utama perseoran mendatang. Minimal 8.000 hektare tahun ini, artinya ada kenaikan 4 persen dari kira-kira 280 ribu hektare kebun inti kita yang lama," katanya.
Replanting dipastikan akan dilakukan di seluruh area kebun milik perseroan yakni di Kalimantan dan Sulawesi. "Buat kami, jangka panjang produktivitas bukan buat kita sekarang tapi masyarakat mendatang," ujar Djap Tet Fa.
(Dhera Arizona)