sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

AALI Siapkan Capex Rp1,4 Triliun di 2026, Termasuk untuk Replanting 8.000 Hektare

Market news editor Dhera Arizona Pratiwi
16/04/2026 18:52 WIB
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp1,4 triliun sepanjang 2026.
AALI Siapkan Capex Rp1,4 Triliun di 2026, Termasuk untuk Replanting 8.000 Hektare. (Foto Dhera/IDX Channel)
AALI Siapkan Capex Rp1,4 Triliun di 2026, Termasuk untuk Replanting 8.000 Hektare. (Foto Dhera/IDX Channel)

IDXChannel - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp1,4 triliun sepanjang 2026. Jumlah ini naik 79 persen (yoy) dari tahun sebelumnya sebesar Rp782 miliar.

"Anggaran capex kita naik 79 persen yoy dari Rp782 miliar jadi Rp1,4 triliun. Kami alokasikan untuk plantation 68,8 persen termasuk replanting, mills 19,8 persen, dan nonplantation atau kendaraan operasional 16,4 persen untuk mendukung produksi," ujar Presiden Direktur AALI Djap Tet Fa dalam acara public expose di Jakarta, ditulis Kamis (16/4/2026).

Dia menerangkan, biaya logistik saat ini mengalami peningkatan. Maka dari itu, alokasi capex pada kendaraan angkut menjadi satu hal yang harus diperhatikan perseroan.

"Sebuah dampak yang memang tidak bisa dihindari. Paling penting di operasional pabrik adalah alat angkut dan ada minyaknya (BBM). Nah, bagaimana kami memastikan ketersediaan solar tidak mengganggu aktivitas kebutuhan, mulai dari pupuk, penanaman, hingga produksi," kata dia.

Bahkan, Djap Tet Fa menyampaikan, harga solar nonsubsidi kini sudah melonjak hingga 90 persen imbas terjadinya perang di Timur Tengah. Sehingga, hal ini menyebabkan biaya operasional perseroan turut membengkak.

"Sampai bulan April ini peningkatan sudah hampir 90 persen. Biasanya Rp14 ribu-Rp15 ribu (per liter), sekarang mungkin sudah hampir Rp25 ribu (per liter)," ujarnya.

Selain itu, kata Djap Tet Fa, perseroan juga akan fokus kegiatan replanting atau penanaman kembali lahan seluas 8.000 hektare (Ha) sepanjang tahun ini. Sebab, rata-rata usia tanaman sawit mulai menua dan produktivitasnya menurun.

"Maka replanting menjadi fokus strategi utama perseoran mendatang. Minimal 8.000 hektare tahun ini, artinya ada kenaikan 4 persen dari kira-kira 280 ribu hektare kebun inti kita yang lama," katanya.

Replanting dipastikan akan dilakukan di seluruh area kebun milik perseroan yakni di Kalimantan dan Sulawesi. "Buat kami, jangka panjang produktivitas bukan buat kita sekarang tapi masyarakat mendatang," ujar Djap Tet Fa.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement