IDXChannel – Lonjakan kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) membuka peluang pertumbuhan bagi PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR), seiring ekspansi kapasitas data center di kawasan industri Bekasi yang mendorong kebutuhan listrik dalam jumlah besar.
Analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dan Alden Gabriel Lam dalam riset yang terbit pada 18 September 2026 menyebut POWR menjadi salah satu penerima manfaat langsung dari meningkatnya permintaan data center.
POWR memperkirakan kebutuhan listrik dari pemain data center akan meningkat dari sekitar 274 MVA saat ini menjadi 303 MVA (megavolt-ampere) pada akhir 2026, 385 MVA pada 2027, dan sekitar 447 MVA pada 2028.
“Pertumbuhan permintaan dari data center akan mendorong konsumsi listrik yang lebih tinggi, yang secara langsung menguntungkan POWR melalui peningkatan permintaan listrik,” tulis analis UOB Kay Hian.
Peluang tersebut semakin terbuka seiring ekspansi PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Perseroan tengah mengembangkan tambahan kapasitas 120 MW (megawatt) di area H1, yang berpotensi menghasilkan permintaan listrik hingga 200 MW bagi POWR.
Ekspansi DCII merupakan bagian dari rencana peningkatan kapasitas data center dari sekitar 132 MW saat ini menjadi lebih dari 2 GW (gigawatt) dalam jangka panjang.
Menurut analis, kebutuhan listrik akan menjadi salah satu komponen utama dalam ekspansi tersebut.
Hal ini tercermin dari struktur biaya DCII. Biaya terkait listrik menyumbang 37,2 persen dari biaya pendapatan DCII pada semester I 2026. Meski menjadi komponen biaya terbesar, biaya listrik tersebut pada dasarnya diteruskan kepada pelanggan.
Listrik merupakan salah satu biaya operasional terbesar bagi data center, kata analis, tetapi biaya tersebut diteruskan kepada pelanggan.
Dengan demikian, meningkatnya kapasitas dan utilisasi data center berpotensi meningkatkan volume listrik yang disalurkan POWR, tanpa secara langsung membebani margin perseroan akibat fluktuasi biaya input.
POWR sendiri memiliki infrastruktur kelistrikan terintegrasi yang melayani lima kawasan industri besar di Bekasi, yakni MM2100, East Jakarta Industrial Park, Hyundai Inti Development, Lippo Cikarang, dan Jababeka Industrial Estate.
Perseroan melayani lebih dari 96 persen tenant di kawasan-kawasan tersebut. Basis pelanggan captive ini menjadi modal penting untuk menangkap pertumbuhan permintaan listrik seiring ekspansi kawasan industri dan data center.
POWR memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jababeka berkapasitas 755 MW, PLTG MM2100 sebesar 109 MW, serta PLTU Babelan berkapasitas 280 MW, termasuk 70 MW co-firing. Perseroan juga mengoperasikan pembangkit surya berkapasitas 50,5 MWp (megawatt-peak) hingga semester I 2026 dan tengah melakukan commissioning proyek gas engine 50 MW di MM2100.
Di sisi biaya, struktur bisnis POWR juga memberikan perlindungan terhadap fluktuasi harga bahan bakar karena biaya input listrik umumnya dapat diteruskan kepada pelanggan.
Perseroan memiliki bauran energi yang terdiri dari batu bara, gas, dan biomassa, dengan kapasitas pembangkit berbasis gas sekitar 864 MW.
Menurut analis, lonjakan kebutuhan listrik tersebut tidak terlepas dari perkembangan AI.
Beban kerja berbasis AI membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan workload tradisional, sehingga konsumsi listrik per unit kapasitas komputasi juga meningkat signifikan.
Structure Research memperkirakan kebutuhan daya data center global meningkat dari sekitar 13,2 GW pada 2025 menjadi 121,8 GW pada 2030, seiring pesatnya pengembangan infrastruktur AI dan data center.
Selain DCII, pengembangan data center NexAI Digital Infrastruktur (MGLV) sebesar 42 MW di Kawasan Industri Jababeka (KIJA) juga berpotensi menciptakan tambahan permintaan listrik sekaligus mendorong kebutuhan kawasan industri.
Di sisi lain, reliabilitas menjadi faktor krusial bagi operator data center. DCII mencatatkan rekam jejak uptime 100 persen tanpa downtime selama sekitar 13 tahun.
Perusahaan menilai operasional data center sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni pasokan listrik, pendinginan, dan keamanan.
DCII juga mengandalkan pendekatan campus yang memungkinkan sejumlah pelanggan berada dalam satu ekosistem infrastruktur.
Model tersebut dapat mengurangi latensi jaringan antarpelanggan sekaligus menekan risiko gangguan konektivitas eksternal.
Namun, analis mengingatkan bahwa pertumbuhan permintaan listrik tidak serta-merta langsung menjadi konsumsi aktual.
Pelanggan data center membutuhkan waktu untuk meningkatkan utilisasi setelah kapasitas dikontrak.
POWR juga masih melakukan negosiasi untuk tambahan kapasitas dengan sejumlah pelanggan, dengan beberapa komitmen potensial diperkirakan muncul pada akhir 2026 atau 2027.
Hal serupa berlaku pada DCII. Kapasitas yang sudah dikontrak tidak langsung berubah menjadi kapasitas yang menghasilkan pendapatan.
Perusahaan menyebut terdapat jeda setidaknya sekitar satu tahun antara penandatanganan kontrak dan pengiriman kapasitas.
Meski demikian, kecepatan pembangunan menjadi salah satu keunggulan DCII.
Data center baru dapat diselesaikan dalam waktu sekitar empat bulan, sementara proyek dengan spesifikasi lebih kompleks membutuhkan waktu kurang dari 12 bulan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.