Kondisi ini membuat sejumlah saham yang berpotensi menjadi penerima manfaat tren AI masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah.
ISAT, misalnya, dinilai tetap memiliki valuasi yang jauh lebih menarik dibandingkan perusahaan neocloud di Amerika Serikat (AS), bahkan dengan menggunakan asumsi yang konservatif.
Dengan demikian, Arief melihat peluang AI di Indonesia memiliki cakupan yang lebih luas dan muncul lebih awal dibandingkan yang saat ini diperhitungkan pasar.
"AI winners at old-economy valuations," menjadi salah satu sorotan utama dalam riset tersebut. Dengan kata lain, saham-saham yang berpotensi diuntungkan dari tren AI masih ditawarkan dengan valuasi yang relatif murah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.