Padahal, kinerja terbaru menunjukkan daya tahan yang solid. Sepanjang 2025, BBCA masih membukukan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 5 persen dengan ROE tetap tinggi di kisaran 21 persen.
Hal ini menegaskan bahwa tekanan harga lebih mencerminkan reaksi pasar yang berlebihan ketimbang pelemahan struktural kinerja.
Dalam dua tahun terakhir, kredit BBCA tumbuh rata-rata 12 persen, sementara total aset naik sekitar 6 persen secara CAGR. Net interest margin (NIM) tetap stabil di kisaran 6 persen, dengan ROA di atas 4 persen dan ROE melampaui 21 persen.
Sucor menilai BBCA bahkan memiliki ruang untuk meningkatkan ROE secara struktural. Dengan posisi permodalan yang konservatif dan modal berlebih, normalisasi leverage secara prudent serta realokasi aset ke kredit berimbal hasil lebih tinggi dapat menjadi katalis pertumbuhan laba ke depan.
Tekanan akibat peringatan MSCI juga membayangi saham-saham unggulan lain dalam daftar top conviction buy Sucor, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), serta PT Mayora Indah Tbk (MYOR).