IDXChannel - PT Arkora Hidro Tbk (ARKO) mencatat pendapatan usaha sebesar Rp343,3 miliar sepanjang 2025. Capaian itu meningkat 44 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp239 miliar.
Namun, beban pokok pendapatan naik 41 persen menjadi Rp253,6 miliar diakibatkan oleh proses finalisasi pembangunan Proyek Kukusan 2. Kendati demikian, laba kotor ARKO melesat 53 persen menajdi Rp89,7 miliar.
Dari sisi operasional, ARKO memproduksi listrik sebesar 151,8 MWh pada 2025. Angka itu tumbuh 56,1 persen didukung oleh mulai beroperasinya Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Yaentu dan curah hujan yang lebih tinggi dibanding tahun 2024.
Kinerja operasional positif tersebut mendorong pertumbuhan laba bersih sebesar 52,9 persen menjadi Rp63,9 miliar, dengan margin laba bersih yang naik menjadi 18,6 persen (+111 bps YoY) pada 2025.
Presiden Direktur ARKO, Aldo Artoko mengungkapkan, proyek Kukusan 2 yang baru beroperasi pada Februari 2026 juga akan berkontribusi positif terhadap arus kas perseroan mulai tahun ini dengan PLN sebagai pembeli tunggal.
“Dengan semakin banyak proyek pembangkit yang diselesaikan, kami yakin akan mampu terus menjaga komitmen untuk menerangi Indonesia berbasiskan energi bersih serta menjalankan bisnis secara berkelanjutan,” kata Aldo melalui keterangan resmi, Senin (9/3/2026).
Sepanjang tahun lalu, ARKO mengakselerasi dua pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air dengan tipe run-of-river yang pada akhirnya mengantarkan Proyek Kukusan 2 (5,4 MW), berlokasi di Tanggamus, Lampung, mulai beroperasi secara komersial untuk pertama kalinya pada Februari 2026.
Untuk Proyek Tomoni (10 MW) yang berlokasi di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, proses pembangunannya juga bertumbuh secara signifikan. Pada 2024 progres konstruksinya baru sebesar 15,5 persen, sementara pada 2025 sudah mencapai 58,8 persen dengan target finalisasi proyek pada akhir tahun ini.
Di samping itu, pada September 2025, ARKO juga memperoleh Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) Proyek Pongbembe (20 MW) dari PLN. PPA ini berlaku selama 30 tahun terhitung sejak proyek mulai beroperasi dan diperkirakan beroperasi pada 2030. Proses pembangunan proyek tersebut telah dimulai pada akhir tahun 2025.
"Estimasi produksi listriknya mencapai 97.218 MWh per tahun yang seluruhnya akan dibeli oleh PLN. Dengan target tersebut, Proyek Pongbembe nantinya mampu berkontribusi sebesar 27,7 persen dari total produksi energi perseroan yang bersumber dari enam proyek yang ada," ujarnya.
Dengan fokus pada energi bersih, ARKO mampu mencatatkan reduksi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar ±37.290 ton CO₂eq melalui tiga proyek yang telah beroperasi yakni Proyek Cikopo, Tomasa, dan Yentu. Setelah keenam proyek beroperasi, ARKO akan mampu merreduksi emisi sebesar ±181.503 ton CO₂eq per tahun sebagai komitmen mendukung program pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission 2060.
(Rahmat Fiansyah)