Di antara emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) memperoleh kenaikan alokasi terbesar, yakni sekitar 13 persen menjadi 810 ribu kiloliter. Sementara itu, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) tetap menjadi emiten dengan alokasi biodiesel terbesar.
CGSI menilai TBLA berpotensi menikmati tambahan volume penjualan paling besar dari kebijakan tersebut.
Sementara, emiten hulu yang tidak memperoleh alokasi biodiesel secara langsung, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), diperkirakan merasakan manfaat secara tidak langsung melalui potensi kenaikan harga crude palm oil (CPO).
Meski memberikan sentimen positif, CGSI mengingatkan bahwa besarnya alokasi biodiesel tidak otomatis berubah menjadi peningkatan penjualan maupun laba perusahaan.
Realisasi penyaluran biodiesel, ketersediaan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta kelancaran implementasi program masih menjadi faktor yang perlu dicermati.