Aksi injeksi likuiditas ini bahkan mencatatkan lompatan ekspansi yang masif jika dikomparasikan antarbulan. Jika pada akhir Mei lalu total ekspansi likuiditas yang digulirkan BI berada di angka kisaran Rp600 triliun, maka memasuki akhir Juni 2026 ini jumlah pasokan modal yang diguyur bank sentral melonjak drastis hingga menembus angka Rp1.000 triliun.
Langkah pelonggaran kuantitatif domestik ini dipastikan krusial untuk mencegah terjadinya lonjakan gejolak harga yang tidak beraturan pada pasar uang maupun pasar valuta asing (valas) nasional.
"Sebagai contoh untuk likuiditas di operasi moneter kami kalau kita lihat di bulan di akhir bulan Mei ekspansi yang kami lakukan sekitar Rp600 triliun, maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp1.000 triliun. Khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita," kata Destry.
(NIA DEVIYANA)