sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BI Pertahankan Suku Bunga, Menanti Pasar Saham Lebih Bergairah?

Market news editor Melati Kristina - Riset
27/03/2023 07:00 WIB
Aksi BI dalam mempertahankan suku bunga acuan di tengah naiknya suku bunga The Fed menjadi angin segar bagi saham dalam negeri.
BI Pertahankan Suku Bunga, Menanti Pasar Saham Lebih Bergairah? (Foto: MNC Media)
BI Pertahankan Suku Bunga, Menanti Pasar Saham Lebih Bergairah? (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Keputusan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan suku bunga acuan di tengah aksi Federal Reserve atau The Fed dalam menaikkan suku bunga menjadi angin segar bagi pasar saham dalam negeri.

Pada Rabu (22/3) lalu, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin atau 0,25 persen. Hal ini tentunya dikhawatirkan dapat menambah gejolak di pasar keuangan akibat krisis perbankan AS yang belakangan terjadi.

Mengutip BBC, The Fed menaikkan suku bunga karena menilai sistem perbankan AS saat ini sedang sehat dan tangguh. Namun, kolapsnya sejumlah bank AS dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi ke depan.

Tercatat, kenaikan suku bunga ini merupakan ke sembilan kalinya yang dilakukan berturut-turut oleh The Fed yang menyebabkan suku bunga AS menyentuh level tertinggi sejak 2007 lalu.

Naiknya suku bunga The Fed turut diikuti oleh berbagai bank sentral global. Pekan lalu, Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunganya sebesar 0,5 persen.

Sedangkan, Bank of England turut mengumumkan kenaikan suku bunga pada Kamis (23/3) waktu setempat, setelah menunjukkan lonjakan inflasi pada Februari yang mencapai 10,4 persen.

Di tengah keputusan tersebut, BI justru tetap mempertahankan suku bunga acuan dalam negeri atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75 persen.

Adapun, data BI mencatat, sepanjang 2023, suku bunga acuan Tanah Air konsisten berada di level 5,75 persen. (Lihat grafik di bawah ini.)

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, keputusan BI tersebut konsisten dengan kebijakan moneter untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi hingga inflasi ke depannya.

"Inflasi inti maupun inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun lebih cepat dari yang kita perkirakan," ujar Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/2/2023).

Proyeksi BI menunjukkan, inflasi inti akan bergerak di sekitar 3 persen, dengan perkiraan angka yang tertinggi di level 3,6 persen. Pada bulan lalu, BI memperkirakan inflasi inti bisa sampai 3,7 persen.

Sementara, dalam laporan Bank OCBC bertajuk “Weekly Macro Views” pada Selasa (21/3) lalu menyebutkan, keputusan BI dalam mempertahankan suku bunga dinilai tepat karena ekspektasi inflasi tetap terjaga dengan baik.

“Kami memperkirakan, inflasi inti akan kembali menyentuh ke kisaran target bank sentral, yaitu 2 persen hingga 4 persen pada semester II-2023, sementara inflasi inti akan tetap berada di bawah 4 persen sepanjang tahun,” tulis laporan tersebut.

Kendati demikian, meskipun BI berhasil mempertahankan suku bunga acuan, kenaikan suku bunga The Fed tetap menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian terutama pergerakan rupiah.

Ekonom sekaligus Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira menilai, dampak naiknya suku bunga The Fed dapat menambah beban biaya pinjaman korporasi dan pemerintah khususnya pinjaman valas.

“Bunga utang pemerintah makin mahal dan perusahaan yang sudah overleverage atau tidak mampu membayar pembayaran bunga juga terkena imbas naiknya biaya pinjaman,” kata Bhima kepada IDX Channel, Jumat (24/3).

Namun demikian, Bhima mengatakan bahwa perbankan dalam negeri masih diuntungkan karena net interest margin (NIM) yang masih lebar dan kemampuan sektor ini dalam membukukan laba bersih yang gemuk.

Dampak bagi IHSG hingga SBN dan Obligasi

Selain menyebutkan dampak naiknya suku bunga The Fed bagi sektor perekonomian, Bhima turut menyebutkan efek samping dari keputusan BI dalam menahan suku bunga acuan di tengah naiknya suku bunga The Fed.

Menurutnya, keputusan BI dalam menahan suku bunga dapat menyebabkan surat utang denominasi rupiah menjadi kurang menarik yang memicu pergeseran minat investasi asing.

“Selain itu, dampak jangka panjang ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru bisa negatif dalam jangka panjang karena risiko investasi di saham menjadi meningkat bila BI tidak menyamakan kenaikan suku bunga The Fed,” tutup Bhima.

Kendati demikian, riset Bahana Sekuritas yang dirilis pada Jumat (17/3) dengan judul “Fixed Income Morning Flash: Market Brief” mengatakan bahwa investor global cenderung optimistis dalam mengalihkan asetnya ke jenis investasi yang lebih berisiko seperti pasar saham dibanding aset yang lebih aman.

Selain itu, Bahana Sekuritas mencatat, terjadinya penguatan di bursa saham AS disertai kenaikan yield US Treasury tenor 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun hingga 30 tahun didorong oleh ekspektasi bahwa The Fed bakal tetap menaikkan suku bunga acuan seiring meredanya krisis perbankan AS.

“Meningkatnya optimisme global tersebut akan meredakan tekanan kenaikan yield di pasar surat utang Indonesia dalam waktu dekat,” tulis Bahana Sekuritas dalam risetnya.

Lebih lanjut, keputusan BI dalam mempertahankan suku bunga acuan juga menahan kenaikan yield dari obligasi hingga Surat Berharga Negara (SBN) secara signifikan, meski penurunan yield tersebut juga masih terbatas. (Lihat grafik di bawah ini.)

Melansir data Investing pada Jumat (24/3), yield obligasi untuk tenor 10 tahun berada di kisaran 6,94 persen, yang mana angka tersebut turun sebesar 0,14 persen dalam sepekan terakhir.

Sementara, per Senin (20/3), yield SBN untuk tenor 10 tahun juga turun 0,14 persen dalam sepekan menjadi 6,91 persen.

Adapun, Analis pasar modal Hans Kwee berpendapat, yield SBN yang cenderung tidak naik bagus untuk pasar saham karena turut meningkatkan minat para investor untuk kembali memilih jenis investasi yang lebih berisiko.

“Ini menjadi langkah positif bagi pasar saham,” kata Hans Kwee dalam wawancara dengan IDX Channel, pada Jumat (24/3).

Sedangkan Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menambahkan, kebijakan hawkish The Fed membuat US Treasury menjadi menurun yang diiringi dengan yield obligasi yang menurun pula, meski harga obligasi cenderung menguat.

“Walaupun begitu, risk apetite investor meningkat sehingga kembali memilih pasar saham,” kata Nafan kepada IDX Channel, Jumat (24/3).

Ia juga mengatakan, solidnya makroekonomi domestik yang ditopang oleh suku bunga acuan Tanah Air yang tetap bertahan menjadikan IHSG saat ini lebih tangguh di situasi yang sulit.

“Selama terciptanya kondisi yang kondusif, maka optimisme investor terhadap pasar saham dalam negeri bisa menguat,” ujar Nafan.

Deretan Saham yang Kena Cuan

Lebih lanjut, Nafan juga menyebutkan saham-saham yang berpotensi cuan seiring dengan keputusan BI dalam mempertahankan suku bunga.

Menurutnya, saham-saham di sektor finansial terutama bank big four menjadi deretan saham yang diuntungkan oleh sentimen ini karena memiliki likuiditas memadai yang menyebabkan sektor perbankan cenderung kebal dari krisis bank AS.

“Terutama, saham bank kakap ditopang sentimen pembagian dividen jumbo yang mendorong para investor untuk mengakumulasikan saham di emiten perbankan,” kata Nafan.

Selain itu, sektor lainnya yang diuntungkan dari sentimen ini adalah saham dari sektor properti properti hingga non siklis.

“Emiten non siklis dapat memanfaatkan momentum bulan ramadan hingga tahun pemilu yang membuat saham sektor ini kuat di tengah kemungkinan resesi,” pungkas Nafan.

Melansir data BEI pada Jumat (24/3), saham sektor properti hingga perbankan tercatat melesat dalam sepekan terakhir. (Lihat grafik di bawah ini.)

Adapun, saham emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) terkerek hingga 30,56 persen dalam seminggu terakhir.

Menyusul LPKR, saham bank digital PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga melesat hingga 21,57 persen dalam sepekan.

Sementara, saham bank big four dan bank himbara, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga naik dalam seminggu belakangan.

BEI mencatat, saham BBNI naik hingga 9,38 persen, disusul oleh BBTN dan BMRI yang masing-masing menguat 8,94 persen dan 8,46 persen dalam seminggu belakangan.

Kemudian, saham bank digital lainnya, seperti PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga tumbuh selama seminggu terakhir, masing-masing sebesar 5,56 persen dan 5,31 persen.

Periset: Melati Kristina

 

(ADF)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement