Sementara hingga Maret 2026, PANI telah berhasil membukukan marketing sales sebesar Rp968 miliar atau setara dengan 23 persen dari target tahunan. Kontribusi terbesar penjualan berasal dari segmen residensial sebesar 47 persen, disusul oleh kaveling tanah komersial sebesar 43 persen, dan produk komersial seperti ruko serta pergudangan sebesar 10 persen.
Direktur PANI Yohanes Edmond Budiman menambahkan, realisasi penjualan properti memang cenderung tidak merata di setiap kuartal dan sangat bergantung pada waktu peluncuran produk. Sehingga, perseroan tidak memfokuskan pada satu segmen tertentu untuk mengejar marketing sales.
"Masing-masing segmen memiliki karakteristik dan basis pelanggan yang spesifik atau khusus, sehingga strategi kami adalah menjaga keseimbangan penjualan di seluruh segmen tersebut sambil terus menyesuaikan dengan kondisi pasar dan permintaan yang berkembang," katanya.
Meski demikian, perseroan optimistis kelengkapan infrastruktur dan konektivitas yang menghubungan PIK 2 akan menjadi katalis peningkatan sales perseroan kedepan. Keberadaan Tol Katara yang memangkas waktu tempuh dari Bandara Soekarno-Hatta ke PIK 2 menjadi hanya 7 menit, serta operasional fasilitas MICE seperti Nusantara International Convention Exhibition (NICE), menjadi crowd puller utama yang meningkatkan nilai investasi kawasan.
Dari sisi finansial, PANI berada dalam posisi yang sangat sehat dengan status net cash dan total aset mencapai Rp50 triliun. Pada kuartal I-2026, perseroan membukukan lonjakan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 1.027 persen secara year-on-year menjadi Rp578 miliar.
(Dhera Arizona)