Perbaikan profitabilitas tersebut didukung peningkatan efisiensi operasional. Rasio kupasan tanah (strip ratio) membaik menjadi 7,5 kali dari sebelumnya 8,1 kali, sementara volume pengupasan tanah penutup (overburden) relatif tidak berubah dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan perusahaan mampu meningkatkan produksi batu bara tanpa harus menaikkan aktivitas pengupasan tanah secara signifikan.
Secara operasional, produksi batu bara BUMI meningkat 7,1 persen menjadi 38,5 juta ton pada semester I-2026. Penjualan batu bara tumbuh lebih tinggi, yakni 11,7 persen menjadi 38,8 juta ton. Penjualan yang melampaui produksi membuat persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, harga jual rata-rata FOB batu bara juga mengalami pemulihan sebesar 2,6 persen menjadi USD62,9 per ton dibandingkan USD61,3 per ton pada semester I-2025.
Perseroan menargetkan penjualan batu bara sepanjang 2026 berada di kisaran 82 juta hingga 84 juta ton, dengan harga jual rata-rata diproyeksikan sebesar USD60 hingga USD62 per ton. Adapun biaya produksi diperkirakan berada pada kisaran USD42 hingga USD44 per ton.
Dengan realisasi penjualan sebesar 38,8 juta ton pada enam bulan pertama tahun ini, BUMI menilai perseroan masih berada pada jalur untuk mencapai target penjualan sepanjang 2026. Sementara itu, harga jual rata-rata semester pertama yang mencapai USD62,9 per ton juga telah berada di kisaran atas panduan tahunan perusahaan.