Meski demikian, kantor berita Tasnim dari Iran mengingatkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih berisiko gagal karena AS dinilai menghambat sejumlah klausul penting, termasuk tuntutan Teheran agar aset-aset Iran dibekukan kembali.
Prospek meredanya ketegangan di Timur Tengah langsung menekan harga minyak. Brent merosot lebih dari 4,6 persen ke kisaran USD98,70 per barel, level terendah dalam lebih dari dua pekan, karena pasar memperkirakan aliran energi melalui Selat Hormuz akan kembali normal.
Turunnya harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi global. Hal itu menopang pasar obligasi dan meningkatkan harapan pemangkasan suku bunga bank sentral. Imbal hasil obligasi pemerintah di Jepang, Australia, dan Selandia Baru tercatat turun.
Kontrak berjangka (futures) S&P 500 juga naik 0,7 persen setelah indeks acuan Wall Street itu mencatat penguatan selama delapan pekan berturut-turut, rekor terpanjang sejak 2023. Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Aset tanpa imbal hasil seperti emas dan perak ikut menguat seiring ekspektasi inflasi yang lebih rendah membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.