sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Menguat, Investor Menanti Data Ketenagakerjaan AS

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
03/09/2026 09:12 WIB
Bursa saham Asia menguat pada Kamis (3/9/2026), didorong reli Wall Street dan obligasi setelah pasar merespons positif meredanya tekanan di pasar surat utang.
Bursa Asia Menguat, Investor Menanti Data Ketenagakerjaan AS. (Foto: Magnific)
Bursa Asia Menguat, Investor Menanti Data Ketenagakerjaan AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Bursa saham Asia menguat pada Kamis (3/9/2026), didorong reli Wall Street dan obligasi setelah pasar merespons positif meredanya tekanan di pasar surat utang global.

Investor kini menanti data ekonomi Amerika Serikat (AS) serta pernyataan pejabat bank sentral untuk mencari petunjuk arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) bulan ini.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5 persen setelah bursa saham AS ditutup menguat tipis pada perdagangan sebelumnya.

Di kawasan Asia, Nikkei Jepang naik 0,11 persen, Shanghai Composite menguat 0,54 persen, dan Hang Seng Hong Kong terkerek 0,53 persen.

KOSPI Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 1,07 persen, disusul ASX 200 Australia yang naik 0,34 persen dan STI Singapura yang menguat 0,51 persen.

Pasar obligasi Jepang juga menguat setelah imbal hasil Japanese Government Bond (JGB) turun dari level tertingginya.

Pergerakan tersebut mengikuti pemulihan obligasi pemerintah AS atau Treasury pada perdagangan sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 0,99 basis poin menjadi 4,784 persen. Sementara itu, yield JGB tenor 30 tahun anjlok 10 basis poin menjadi 4,065 persen, setelah sebelumnya mendekati level tertinggi sepanjang sejarah.

Pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat.

Data tersebut menjadi sorotan utama setelah data ketenagakerjaan sektor swasta AS pada Agustus menunjukkan penambahan tenaga kerja yang lebih rendah dari perkiraan.

Pelaku pasar juga menantikan pidato Gubernur The Fed Christopher Waller.

Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada bulan ini.

“Jika perang ini dapat diakhiri, tentu itu akan menjadi perkembangan yang sangat positif untuk menurunkan yield secara keseluruhan,” kata Senior Markets Strategist NAB, dalam sebuah podcast, Gavin Friend, dikutip Reuters.

Menurut dia, berakhirnya konflik akan mengurangi berbagai tekanan sehingga bank-bank sentral dapat kembali memusatkan perhatian pada pertimbangan kebijakan moneter yang lebih normal.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS turun 0,05 persen menjadi 99,54. Euro naik tipis 0,02 persen ke USD1,1589, sedangkan yen menguat 0,07 persen menjadi 158,59 per dolar AS setelah melonjak 0,9 persen pada perdagangan sebelumnya.

Investor juga masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah setelah AS dan Iran kembali melancarkan serangan terbesar sejak Juli. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan dan berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Harga minyak bergerak melemah dari level tinggi. Minyak mentah AS turun 0,3 persen menjadi USD90,74 per barel, sedangkan minyak Brent turun 0,44 persen menjadi USD95,21 per barel.

Sebaliknya, harga emas spot naik 0,32 persen menjadi USD4.400,47 per ons, sementara perak spot menguat 0,51 persen menjadi USD65,65 per ons.

Pasar belakangan meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.

Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar dua banding tiga bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, meningkat dari 37 persen sepekan sebelumnya.

Williams mengatakan kenaikan yield obligasi jangka panjang mencerminkan kondisi ekonomi yang masih solid. Dia menambahkan bahwa The Fed masih mengumpulkan berbagai informasi sebelum menentukan langkah kebijakan moneter berikutnya.

Selain The Fed, pasar juga akan mencermati pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BOJ). Investor berupaya mengukur sejauh mana bank-bank sentral utama dunia siap memperketat kebijakan moneter untuk menghadapi tekanan inflasi yang masih bertahan.

Data terbaru menunjukkan sektor jasa Jepang tumbuh pada laju tercepat dalam lima bulan pada Agustus. Kondisi tersebut memperkuat indikasi bahwa ekonomi Jepang cukup kuat untuk menghadapi kenaikan suku bunga oleh BOJ.

Sementara itu, kontrak berjangka bursa Eropa bergerak terbatas pada awal perdagangan. Euro Stoxx 50 futures turun 0,02 persen, DAX futures Jerman melemah 0,01 persen, dan FTSE futures terkoreksi 0,1 persen. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement