sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Merosot, Perang AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Pasar

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
02/09/2026 09:28 WIB
Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu lonjakan harga minyak.
Bursa Asia Merosot, Perang AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Pasar. (Foto: Reuters)
Bursa Asia Merosot, Perang AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Pasar. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu lonjakan harga minyak, membuat investor kembali menghindari aset berisiko.

Pasar Jepang menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling besar. Indeks Nikkei 225 turun 2,2 persen ke level 64.742,17 pada perdagangan awal.

Mengutip Dow Jones Newswires, saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, memimpin pelemahan. SoftBank Group turun 4,1 persen, Advantest melemah 4 persen, sementara Tokyo Electron merosot 4,5 persen.

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi menjadi perhatian utama investor setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan pada Selasa.

Pasar kini mencermati pergerakan harga minyak mentah serta perkembangan terbaru di Timur Tengah.

Nilai tukar dolar AS juga berada di level 160,19 yen, dibandingkan 159,94 yen pada penutupan perdagangan Tokyo sehari sebelumnya.

Tekanan serupa terjadi di Korea Selatan. Indeks KOSPI anjlok lebih dari 3 persen ke kisaran 6.630, berbalik melemah setelah menguat pada perdagangan sebelumnya.

Meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran telah mendorong harga minyak melonjak. Minyak mentah Brent menembus USD95 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik di atas USD90 per barel.

Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya energi dan inflasi, terutama di tengah risiko terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz.

Sentimen pasar juga dibebani kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Kondisi ini menambah tekanan terhadap saham, terutama sektor teknologi.

Tekanan pasar terjadi meski inflasi tahunan Korea Selatan naik menjadi 3,1 persen pada Agustus dari 2,8 persen pada Juli.

Pemerintah memperkirakan inflasi berada di kisaran 2,5 persen apabila dampak sementara dari basis perhitungan tagihan telepon seluler dikecualikan.

Pelemahan juga meluas ke bursa utama Asia lainnya. Shanghai Composite turun 1,11 persen, Hang Seng Hong Kong merosot 1,16 persen, dan ASX 200 Australia melemah 1,09 persen.

Di tengah aksi jual tersebut, Straits Times Index (STI) Singapura menjadi pengecualian dengan naik tipis 0,07 persen. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement