sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Saham Asia Melemah, Dibayangi Sentimen Risiko Global

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
20/01/2026 10:13 WIB
Bursa Saham Asia cenderuh melemah pada Selasa (20/1/2026) seiring friksi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa turut menekan sentimen pasar.
Bursa Saham Asia Melemah, Dibayangi Sentimen Risiko Global. (Foto:  Reuters)
Bursa Saham Asia Melemah, Dibayangi Sentimen Risiko Global. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa Saham Asia cenderuh melemah pada Selasa (20/1/2026) seiring friksi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa turut menekan sentimen pasar.

Menurut data pasar, pukul 10.02 WIB, Indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,89 persen, terkoreksi selama empat hari berturut-turut seiring kekhawatiran fiskal domestik yang mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi sepanjang masa.

Indeks Topix yang lebih luas ikut terkoreksi 0,98 persen.

Mengutip Reuters, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Senin secara resmi menyerukan pemilihan umum cepat pada 8 Februari serta berjanji menangguhkan pajak penjualan untuk makanan.

Langkah ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke rekor tertinggi.

Sementara pasar saham Amerika Serikat tutup karena hari libur, bursa Eropa anjlok semalam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap delapan negara Eropa hingga AS diizinkan membeli Greenland.

“Kenaikan suku bunga kemungkinan besar menjadi beban bagi pasar saham,” ujar analis strategi saham Nomura Securities, Maki Sawada.

Ia menambahkan, “Ancaman tarif Trump menekan saham-saham Eropa, dan tampaknya tren ini merembet ke pasar saham Jepang.”

Nomura menilai pasar saham Jepang berpotensi menguat jika Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi meraih mayoritas besar di majelis rendah, melemah jika kehilangan kekuasaan, dan bergerak mendatar jika hanya mempertahankan mayoritas tipis, kata Sawada.

Shanghai Composite juga tergerus 0,31 persen, Hang Seng Hong Kong minus 0,21 persen. Sementara, ASX 200 Australia berkurang 0,28 persen.

Berbeda, di Korea Selatan, indeks acuan KOSPI menguat 0,10 persen, melanjutkan reli pencatatan rekor, sedangkan STI Singapura naik tipis 0,02 persen.

Tekanan eksternal meningkat setelah ancaman tarif baru dari AS terhadap Eropa kembali memicu ketidakpastian perdagangan.

Pada saat yang sama, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor panjang memperketat kondisi keuangan regional, sehingga membebani selera risiko di pasar saham Asia. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement