Investasi AI vs Ekonomi secara Luas
Kenaikan suku bunga jangka pendek dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (Treasury) jangka panjang telah memperketat kondisi keuangan bagi dunia usaha maupun rumah tangga.
Kendati demikian, Citi mencatat bahwa siklus pengetatan ini tidak akan banyak menghambat mesin utama pertumbuhan ekonomi AS: belanja modal terkait AI.
"Kebijakan moneter yang lebih ketat tidak akan secara signifikan memperlambat dorongan pertumbuhan yang berasal dari investasi terkait AI (kecuali jika memicu koreksi di pasar ekuitas)," tulis analis Citi, seraya menekankan bahwa dibutuhkan aksi jual besar-besaran di pasar saham atau pelebaran (spread) kredit korporasi untuk dapat menghentikan aliran modal ke perusahaan teknologi berskala masif (hyperscalers).
Sebaliknya, sektor-sektor di luar AI menghadapi tekanan yang kian meningkat:
- Sektor Perumahan: suku bunga hipotek yang lebih tinggi diperkirakan akan semakin menyeret sektor properti hunian ke dalam kontraksi.
- Manufaktur: Perusahaan industri non-teknologi yang mengandalkan pembiayaan utang menghadapi tekanan pada margin keuntungan dan rencana belanja modal yang berkurang.
- Pasar Tenaga Kerja: Permintaan perekrutan yang lesu diperkirakan akan semakin melemah seiring dengan naiknya biaya modal.
Meningkatnya Kerentanan Ekonomi
Citi memperingatkan bahwa seiring naiknya biaya pinjaman, baik untuk kredit mobil konsumen, hipotek, maupun fasilitas kredit korporasi, ekspansi ekonomi secara luas menjadi semakin bergantung pada satu mesin penggerak saja.
Dengan mengalirkan modal hampir secara eksklusif ke pengembangan infrastruktur teknologi AI sembari menekan sektor industri konvensional dan konsumsi, ekonomi AS berisiko menjadi semakin rapuh dan rentan terhadap guncangan makro yang tak terduga. (Febrina Ratna Iskana)