IDXChannel - Saham-saham AS yang sebelumnya melesat tinggi berpotensi menghadapi gejolak. Kondisi makroekonomi kembali menjadi fokus utama di mana inflasi dan imbal hasil obligasi menjadi sorotan.
Indeks acuan S&P 500 (.SPX) sempat berfluktuasi minggu ini, tetapi masih dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa, dengan kenaikan lebih dari 9 persen sepanjang tahun ini. Indeks tersebut juga mencatat delapan minggu kenaikan berturut-turut.
Aksi jual di pasar obligasi membuat Wall Street waspada. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun acuan minggu ini mencapai level tertinggi sejak Januari 2025, sementara imbal hasil 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007, meski keduanya sedikit turun menjelang akhir pekan.
Imbal hasil yang naik menjadi tekanan bagi saham karena dapat menekan valuasi serta meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan bisnis. Faktor utama yang mendorong kenaikan imbal hasil adalah kekhawatiran inflasi dan lonjakan harga energi akibat perang.
“Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang menjadi tantangan bagi pasar obligasi dan kemungkinan membatasi kenaikan saham secara umum jika kondisi ini berlanjut,” ujar kepala investasi di Plante Moran Financial Advisors Jim Baird dilansir Reuters.
Gambaran inflasi akan terlihat pada Kamis melalui rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk April. Data ini merupakan ukuran inflasi yang menjadi acuan Federal Reserve dalam merumuskan keputusan suku bunga.
Pasar futures kini mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada akhir 2026. Padahal, di awal tahun, pasar justru berharap akan ada pemangkasan suku bunga yang lebih mendukung pasar saham.
Risalah rapat terbaru The Fed yang dirilis minggu ini menunjukkan para pejabat semakin khawatir bahwa lonjakan harga akibat perang AS-Israel dengan Iran dapat memicu inflasi. Semakin banyak dari mereka yang mulai terbuka terhadap kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga.
Lebih dari 90 persen perusahaan di indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja, laba kuartal pertama secara keseluruhan diperkirakan melonjak 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data LSEG IBES.
Sisanya, sejumlah peritel besar akan merilis laporan dalam pekan mendatang, termasuk Costco, Best Buy, dan Dollar Tree, seiring investor mencari tanda-tanda apakah harga bensin yang tinggi mulai menggerus belanja konsumen lainnya. Saham Walmart sempat turun pada Kamis setelah raksasa ritel itu mempertahankan proyeksi penjualan dan laba tahunan yang konservatif.
Kecerdasan buatan (AI), yang menjadi pendorong utama kenaikan saham dan pertumbuhan laba, juga akan menjadi sorotan melalui laporan dari penyedia perangkat lunak cloud Salesforce dan Dell Technologies, yang menjual server.
Produsen chip Nvidia, yang hasil kinerjanya dianggap sebagai indikator kesehatan pasar AI, memperkirakan pendapatan kuartal kedua sebesar USD91 miliar, melampaui ekspektasi Wall Street.
(NIA DEVIYANA)