Kenaikan margin ini didorong penyesuaian harga jual berkala pada sejumlah kategori produk untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah serta lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik Amerika Serikat dan Iran, di samping optimalisasi bauran produk.
Kondisi tersebut mengerek laba operasi inti tumbuh 7 persen secara tahunan. Perseroan juga membukukan pendapatan keuntungan selisih kurs yang belum terealisasi, sehingga laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat hingga 21 persen.
Penguatan marjin dan efisiensi operasional perseroan ditopang oleh struktur neraca yang kokoh tanpa beban pembiayaan eksternal. Likuiditas yang berlimpah memberi keleluasaan bagi manajemen dalam menjaga perputaran modal kerja dan rantai pasok secara berkesinambungan.
"Posisi keuangan kami sangat solid dengan net cash position tanpa utang berbunga dari lembaga keuangan, di mana arus kas operasional yang kuat dan siklus konversi kas yang stabil didukung penurunan persediaan yang lebih sehat," kata Billy.
Dari sisi produktivitas gerai, perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan di toko yang sama (same-store sales growth/SSSG) sebesar 2,2 persen pada semester I-2026 dan bertahan di level 2,0 persen hingga bulan ketujuh.