IDXChannel - Di tengah gejolak geopolitik global dan meningkatnya ketidakpastian pasar, sejumlah saham berbasis komoditas hingga emiten berdividen tinggi justru menjadi buruan investor asing dan dinilai tetap solid menopang portofolio.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengatakan, posisi investor asing saat ini terlihat mulai masuk ke beberapa saham unggulan.
“Jika kita melihat posisi asing saat ini, terlihat asing melakukan net di saham BMRI, AADI, UNTR, ITMG, PTBA, dan ADRO,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Dia menilai saham-saham tersebut memiliki kesamaan karakter, terutama dari sisi dividen yang tinggi pada tahun sebelumnya sehingga menarik di tengah ketidakpastian pasar.
Menurut Michael, di tengah gejolak dinamika geopolitik global, investor dapat mulai meningkatkan eksposur pada saham dengan fundamental kuat, khususnya yang memiliki valuasi menarik dan dividen tinggi.
Ia juga menyoroti sektor batu bara (coal) yang mulai menunjukkan sinyal teknikal positif dan berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan.
“Terlihat saham-saham coal memiliki arah menembus base yang mengindikasikan potensi kenaikan hingga 20-30 persen dari area-area sekarang,” ucap Michael.
Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto menilai ada tiga sektor yang layak diperhatikan investor di tengah dinamika pasar saat ini, terutama sektor berbasis komoditas yang masih ditopang sentimen global, yakni minyak, CPO, dan batu bara.
Dia juga menyebut sejumlah saham pilihan yang dinilai menarik dari ketiga sektor tersebut.
“Saham-saham pilihannya antara lain AADI, ITMG, ADRO, PTBA, DSNG, STAA, dan MEDC,” kata William, Senin (30/3/2026).
Founder WH Project William Hartanto mengatakan tren jangka panjang IHSG sejatinya masih terjaga, meski pasar tengah diliputi ketidakpastian menjelang sejumlah agenda penting awal April.
“Secara teknikal IHSG masih uptrend terhitung sejak tahun 2008, dan masih belum terindikasi jelas apakah sudah bottoming atau belum,” kata William, Senin (30/3/2026).
Dia menjelaskan, investor yang menunggu konfirmasi teknikal dapat mencermati area support utama di level 6.500.
“Pelemahan sampai level ini masih dianggap aman dan memungkinkan untuk mendapat saham-saham di area bottom,” imbuh dia.
Namun, William mengingatkan adanya agenda penting pada awal April, pengumuman FTSE hingga MSCI, yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar secara signifikan.
“Tapi, perlu waspada juga dengan agenda-agenda penting seperti tanggal 7 April, kalau IHSG jatuh jadi frontier market maka 6.500 itu bisa dengan mudah ditembus, jadi sarannya wait and see sampai kejelasan tanggal 7 April,” tutur William.
Dalam kondisi pasar yang masih berisiko tinggi, dia menyarankan investor tetap melakukan pembelian saham secara bertahap.
Jika ketidakpastian mereda dan IHSG mampu rebound, William melihat peluang penguatan kembali ke area atas.
“Kalau nanti semuanya aman dan IHSG berhasil rebound, target-target di atas seperti 7.400 dan semua gap yang terbentuk dari Januari itu bisa jadi target penguatan berikutnya,” katanya.
Dia juga menilai sentimen geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, belum memberikan dampak signifikan terhadap IHSG.
“Dari kami seperti itu, karena tidak terlihat efek signifikan dari perang AS-Iran, sentimen perang sendiri efeknya tidak besar,” ujar dia.
Sebagai perbandingan, William mencontohkan konflik Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak 2022 tidak menghalangi IHSG mencetak rekor tertinggi.
“Ini cuma respons panik pelaku pasar yang bisa dikatakan sementara saja,” kata William. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.