IDXChannel - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diproyeksikan akan mereda menjelang akhir 2026. Prospek stabilitas mata uang garuda ini ditopang oleh kombinasi sentimen perbaikan di pasar global serta penyesuaian neraca eksternal dari dalam negeri.
Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman memaparkan, perbaikan sentimen eksternal menjadi pendorong utama yang dapat meringankan beban rupiah di pasar keuangan. Salah satu katalis global yang paling signifikan berasal dari tren penurunan harga komoditas energi dunia seiring potensi deeskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menjelang pemilu sela di AS.
"Untuk faktor-faktor globalnya, kami melihat tren harga minyak dunia terhadap kuartal II sedang bergerak turun seiring ekspektasi deeskalasi ketegangan di Timur Tengah. Bila arus perdagangan di Selat Hormuz kembali lancar, pasar minyak dunia diperkirakan mengalami surplus pasokan sekitar 4 juta barel per hari pada 2027 dengan pasokan yang melampaui permintaan," ujar Helmi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Selain harga minyak, faktor eksternal kedua berkaitan dengan imbal hasil (yield) US Treasury, khususnya tenor pendek, yang diproyeksikan bergerak melandai hingga akhir tahun. Meski sempat terdongkrak premi risiko dalam 1–2 bulan terakhir akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan, Citi meyakini Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan bunga dan justru berpeluang memangkasnya sebelum akhir tahun.