Dinamika impor pangan dan penantian angka inflasi domestik dinilai akan menjadi penentu krusial bagi ketahanan daya beli masyarakat. Ibrahim menggarisbawahi stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi jangkar utama agar ruang pelonggaran moneter dapat dioptimalkan otoritas.
"Rilis data perdagangan Juli mencerminkan kondisi pasokan dan biaya distribusi pangan, di mana lonjakan impor menandakan pasokan domestik yang menipis serta membuat biaya pangan lebih mahal akibat pelemahan rupiah dalam laporan perdagangan. Data inflasi pekan depan menjadi indikator krusial bagi bank sentral untuk menentukan arah suku bunga, di mana inflasi terkendali akan membuka ruang pelonggaran kebijakan," ujar Ibrahim.
Mempertimbangkan penantian sinyal pidato The Fed serta kehati-hatian investor menjelang rilis indikator makro domestik, laju rupiah diproyeksikan akan menghadapi tekanan teknis. Pelaku pasar valuta asing diprediksi akan melakukan penyesuaian posisi pada pembukaan sesi perdagangan awal pekan.
"Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.690 hingga Rp17.750 per USD, dengan kisaran pergerakan sepekan berada pada rentang Rp17.600 sampai Rp17.900 per USD," kata Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)