IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berpotensi melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026) pekan depan. Adapun pada Jumat pekan ini, rupiah ditutup menguat 51 poin ke level Rp17.693 per USD.
Penguatan mata uang garuda ditopang kepastian transisi kepemimpinan di Bank Indonesia (BI), di tengah sikap hati-hati pasar global yang terus mencermati sinyal kebijakan suku bunga The Fed usai Simposium Jackson Hole.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar keuangan domestik menyambut positif terpilihnya pimpinan definitif bank sentral yang memberikan kepastian bagi arah kebijakan moneter ke depan. Kendati demikian, laju penguatan rupiah tertahan oleh kekhawatiran eksternal seputar prospek pengetatan suku bunga acuan di Amerika Serikat.
"Pasar merespons positif keputusan Komisi XI DPR RI yang secara musyawarah mufakat menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026–2031 menyusul mundurnya Perry Warjiyo, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin bank sentral secara definitif atas usulan Presiden Prabowo Subianto. Namun, pasar global tetap berhati-hati dengan pidato perdana Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, terutama setelah indeks harga PCE Juli naik 3,7 persen secara tahunan yang memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga," ujar Ibrahim dalam analisisnya, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Mengacu pada data perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 34 persen pada September dan melonjak hingga 74 persen pada Desember 2026.
Di pasar domestik, para pelaku pasar cenderung menahan diri dari pengambilan posisi agresif menjelang rilis data inflasi resmi awal pekan depan yang akan menjadi parameter penting bagi Bank Indonesia dalam melonggarkan atau mempertahankan suku bunga ketat.
Di saat bersamaan, publik turut mencermati rilis neraca perdagangan edisi Juli 2026. Lonjakan impor komoditas pangan dinilai mengindikasikan menipisnya stok pasokan dalam negeri, yang berpotensi memicu inflasi pangan impor seiring depresiasi nilai tukar.
Dinamika impor pangan dan penantian angka inflasi domestik dinilai akan menjadi penentu krusial bagi ketahanan daya beli masyarakat. Ibrahim menggarisbawahi stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi jangkar utama agar ruang pelonggaran moneter dapat dioptimalkan otoritas.
"Rilis data perdagangan Juli mencerminkan kondisi pasokan dan biaya distribusi pangan, di mana lonjakan impor menandakan pasokan domestik yang menipis serta membuat biaya pangan lebih mahal akibat pelemahan rupiah dalam laporan perdagangan. Data inflasi pekan depan menjadi indikator krusial bagi bank sentral untuk menentukan arah suku bunga, di mana inflasi terkendali akan membuka ruang pelonggaran kebijakan," ujar Ibrahim.
Mempertimbangkan penantian sinyal pidato The Fed serta kehati-hatian investor menjelang rilis indikator makro domestik, laju rupiah diproyeksikan akan menghadapi tekanan teknis. Pelaku pasar valuta asing diprediksi akan melakukan penyesuaian posisi pada pembukaan sesi perdagangan awal pekan.
"Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.690 hingga Rp17.750 per USD, dengan kisaran pergerakan sepekan berada pada rentang Rp17.600 sampai Rp17.900 per USD," kata Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)