IDXChannel – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja bulanan terbaiknya sejak Juni pada Rabu (30/9/2026), didukung oleh kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) dalam lebih dari tiga tahun serta aksi jual yang terus berlanjut di pasar obligasi pemerintah AS (Treasury).
Mata uang itu juga mendapat dorongan dari permintaan aset safe-haven di tengah kenaikan harga minyak akibat konflik yang meluas di Timur Tengah.
Indeks dolar AS, yang mengukur nilai mata uang utama dunia tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen ke level 101,47 dan mencatatkan kenaikan sebesar 2,1 persen sepanjang September.
Bertahan Usai Tekanan Rentetan Data Ekonomi
Indeks dolar AS sempat bergerak turun pada awal hari setelah serangkaian data ekonomi memicu penurunan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Data terbaru mengenai indikator inflasi acuan pilihan The Fed menjadi sorotan utama.
Menurut Biro Analisis Ekonomi AS (BEA), indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures atau PCE) utama naik 0,3 persen secara bulanan (MoM) dan 3,4 persen secara tahunan (YoY) pada Agustus, dibandingkan dengan kenaikan 0,1 persen dan 3,4 persen pada Juli, serta lebih rendah dari perkiraan sebesar 0,4 persen dan 3,7 persen.
Untuk inflasi inti (core), indeks harga PCE meningkat 0,2 persen MoM dan 3 persen YoY pada Agustus, dibandingkan dengan 0,1 persen dan 3 persen pada Juli, serta berada di bawah angka konsensus sebesar 0,3 persen dan 3,3 persen.
Secara terpisah, BEA merevisi naik estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS untuk kuartal kedua menjadi 2,2 persen dari sebelumnya 1,5 persen. Para ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,5 persen.
Selain itu, laporan bulanan ADP mengenai lapangan kerja sektor swasta yang dirilis sebelumnya menunjukkan penambahan 90.000 lapangan kerja pada September; ini merupakan kali pertama laju perekrutan tenaga kerja meningkat sejak Mei.
Sebagai perbandingan, pemberi kerja di sektor swasta hanya menambah 36.000 lapangan kerja pada Agustus. Banjir data ini muncul di saat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade, sehingga secara tajam meningkatkan biaya pinjaman.
Kenaikan ini didorong oleh kombinasi berbagai faktor: kekhawatiran inflasi terkait harga minyak, kekhawatiran mengenai besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sinyal kebijakan ketat (hawkish) dari The Fed, serta membengkaknya utang fiskal AS.
Awal bulan ini, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan memberi sinyal akan adanya pengetatan kebijakan lebih lanjut. Peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober sempat meningkat setelah keputusan September, didorong sebagian oleh komentar bernada hawkish dari para pembuat kebijakan dan aksi jual tanpa henti di pasar obligasi.
Namun, peluang tersebut meredup pada Selasa ketika Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga lagi.
Indikator-indikator yang muncul pada Rabu semakin menurunkan peluang pengetatan kebijakan di Oktober. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase bulan depan kini berada di kisaran 37 persen, turun dari hampir 51 persen pada hari sebelumnya.
"Kombinasi laporan-laporan tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral AS mungkin akan bersikap kurang hawkish, sekaligus meningkatkan optimisme bahwa siklus ekonomi saat ini mampu menghadapi suku bunga yang jauh lebih tinggi dengan tetap tangguh dan terhindar dari perlambatan," ujar ekonom senior di Interactive Brokers, José Torres, dikutip dari Investing.com, Kamis (1/10/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan perdagangan instrumen pendapatan tetap (fixed income) menunjukkan tren yang terpecah; meredanya tekanan biaya menguntungkan obligasi Treasury tenor pendek, sementara harga minyak yang tinggi dan proyeksi pertumbuhan yang kuat justru membebani obligasi tenor panjang.
Yen Mengungguli Mata Uang Utama G10 di tengah Meningkatnya Peringatan Intervensi
Yen Jepang melemah dan terakhir diperdagangkan di level 157,41 terhadap dolar AS. Meski demikian, mata uang ini mencatatkan penguatan bulanan hampir 1,5 persen sepanjang September.
Penguatan mata uang ini terjadi menyusul peringatan terbaru dari pejabat tinggi urusan mata uang Jepang, Atsushi Mimura. Ia menegaskan kembali bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Menteri Keuangan Satsuki Katayama—dalam koordinasi dengan Washington—telah menyampaikan peringatan tegas terhadap pelemahan yen yang tidak terkendali dan kacau.
Meskipun data penjualan ritel Jepang Agustus yang lebih lemah dari perkiraan serta kontraksi tak terduga pada output industri menyoroti kerentanan ekonomi domestik, risalah rapat Bank of Japan pada Juli mengonfirmasi bahwa para pembuat kebijakan melihat inflasi inti mendekati target 2 persen. Hal ini memperkuat ekspektasi akan normalisasi kebijakan di masa mendatang, terlepas dari volatilitas jangka pendek.
Dolar Australia Merosot ke Level Terendah dalam Sembilan Minggu
Dolar Australia turun 0,6 persen menjadi USD0,6946, menembus ke bawah ambang batas USD0,7000 untuk hari kedua berturut-turut dan menyentuh level terendahnya dalam sembilan minggu.
Penurunan nilai dolar Australia terjadi karena data CPI bulanan Australia berada di bawah perkiraan konsensus, sehingga meredam ekspektasi pasar akan pengetatan kebijakan lebih lanjut dalam waktu dekat oleh Reserve Bank of Australia (RBA).
Data inflasi yang lebih rendah ini muncul hanya sehari setelah RBA menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin—langkah yang telah diantisipasi secara luas—sehingga membawa suku bunga tersebut ke level tertinggi dalam 15 tahun di angka 4,60 persen.
Karena pasar telah sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga RBA pada Selasa tersebut, mata uang ini tidak mampu bertahan menghadapi menyempitnya selisih suku bunga dibandingkan dengan imbal hasil (yield) obligasi AS yang tinggi, sehingga membuat dolar Australia rentan terhadap sentimen penghindaran risiko (risk aversion) yang meluas di pasar mata uang regional. (Febrina Ratna Iskana)