Dari faktor eksternal, Ibrahim membeberkan pelemahan rupiah dipicu oleh keraguan para investor global terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, khususnya perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Isu pemblokiran Selat Hormuz serta pengayaan uranium disinyalir masih menjadi batu sandungan utama.
Ketegangan geopolitik yang diperkirakan bisa berlarut-larut hingga 2027 ini mengerek harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu lonjakan inflasi global dan memaksa bank sentral dunia, termasuk The Fed, untuk mempertahankan sikap moneter yang restriktif (hawkish).
"Nah apa yang menyebabkan rupiah melemah? Yang pertama adalah dari segi eksternal di mana investor meragukan tentang prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara AS-Iran yang diprakarsai oleh Pakistan. Karena kita lihat bahwa salah satu senior Iran mengatakan ya bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan AS. Tetapi kita harus melihat juga bahwa permasalahan utama itu adalah tentang masalah program penghutan untuk Selat Hormuz," kata Ibrahim.