Euro tercatat menguat sekitar 1,2 persen dalam sepekan, meski sedikit melemah ke USD1,1558 pada perdagangan Asia. Yen Jepang juga naik 0,9 persen ke kisaran 158 per USD, sementara poundsterling menguat 1,4 persen ke USD1,3408.
Lonjakan harga energi menjadi faktor utama perubahan ekspektasi pasar. Harga minyak acuan Brent crude oil telah melonjak hampir 50 persen sejak konflik memanas, terutama setelah jalur ekspor energi di Timur Tengah terganggu.
European Central Bank (ECB) memang masih menahan suku bunga dalam pertemuan terbaru, namun memberikan sinyal kuat potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat akibat tekanan inflasi dari energi.
Pasar bahkan mulai memperkirakan kenaikan suku bunga di kawasan Eropa dapat terjadi pada pertengahan tahun. Hal serupa terjadi di Inggris. Bank of England menahan suku bunga, tetapi mengindikasikan kesiapan untuk bertindak. Pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga hingga 80 basis poin hingga akhir tahun.
Di Asia, Bank of Japan membuka peluang kenaikan suku bunga secepatnya pada April, mendorong penguatan yen. Sementara itu, Reserve Bank of Australia telah menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya dalam dua bulan terakhir, dengan ekspektasi pengetatan lanjutan.