IDXChannel - PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk atau Energi Group (CNKO) kembali memperkuat struktur permodalan anak usahanya, PT Sekti Rahayu Indonesia (SRI), melalui tambahan setoran modal sebesar Rp212,52 miliar.
Tambahan modal tersebut disalurkan melalui entitas terkendali perseroan, yakni PT Energi Batubara Indonesia (EBI).
Dengan transaksi ini, modal dasar dan modal ditempatkan SRI meningkat menjadi Rp248,22 miliar. Kepemilikan EBI atas SRI pun bertambah menjadi 495.840 saham atau setara 99,88 persen.
Manajemen menyampaikan, transaksi ini tergolong sebagai transaksi material sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, karena nilainya melebihi 10% dari total aset perseroan.
"Transaksi tersebut dikecualikan dari kewajiban prosedur sebagaimana diatur dalam Pasal 3 dan Pasal 4 ayat (1) POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan, lantaran dilakukan antarperusahaan yang berada dalam pengendalian yang sama," kata Corporate Secretary Energi Group Wim Andrian dalam keterbukaan informasi, Kamis (19/2/2026).
Pada 10 Februari lalu, CNKO melalui EBI juga telah menyetor modal sebesar Rp32,7 miliar kepada SRI. Sebelum dua kali suntikan modal tersebut, modal dasar dan modal ditempatkan SRI tercatat sebesar Rp3 miliar.
Dengan tambahan itu, struktur permodalan SRI kini meningkat signifikan guna mendukung pengembangan usaha.
Secara operasional, Energi Group melalui SRI memiliki konsesi tambang batu bara seluas 2.659 hektare yang tersebar di Desa Santilik dan Desa Santing, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Lokasi tambang tersebut berjarak sekitar 180 kilometer dari Sampit.
Selain SRI, perseroan juga mengelola konsesi melalui PT Abe Jaya Perkasa (AJP) seluas 3.467 hektare di Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Konsesi tersebut berada di Desa Kandul dan Desa Majangkan, Kecamatan Gunung Timang, sekitar 150 kilometer dari Palangkaraya.
Selama ini, CNKO berfokus pada pasokan batu bara ke PT PLN (Persero) dengan menjaga kualitas, kuantitas, serta ketepatan waktu pengiriman. Perseroan juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 14 MW di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Namun demikian, kontribusi pendapatan perseroan masih didominasi oleh penjualan batu bara, yakni sekitar 98,8 persen dari total pendapatan, dan segmen PLTU menyumbang sekitar 1,2 persen.
(DESI ANGRIANI)